Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juli 2017

Tertawa Bersama Prodo


“uang adalah alat pembeli gelar yang paling ampuh dan dahsyat.”
-Prodo Imitatio-

            Lampu masih gelap saat itu, namun iringan gitar sudah mulai mengalun dengan asyiknya. Saya masih menggenggam erat gagang koper di wing panggung aula Sertifikasi Guru lantai 9. Ini adalah hari dimana lomba monolog Festival Seni UNJ dilaksanakan. Beberapa peserta lomba sudah menampilkan penampilan terbaiknya sedari pukul sepuluh pagi tadi. Kini giliran saya yang harus tampil dengan nomor urut tujuh setelah sebelumnya terpotong dengan waktu makan siang. Pada kesempatan kali ini, saya akan membawakan sebuah naskah monolog mahakarya dari kang Arthur S. Nalan yang berjudul Prodo Imitatio. Kenapa harus Prodo Imitatio? Begini.
           
Jauh sebelum lomba ini, kira-kira pertengahan April lalu saya dibebankan dengan tetek bengek ujian dari seleksi Duta Bahasa DKI Jakarta. Termasuk sebuah penampilan bakat yang diagendakan di hari terakhir penilaian. Seperti yang sudah-sudah dan tanpa pikir panjang, saya berniat menampilkan monolog. Maka dari itu, saya mencoba konsltasi dan meminta bantuan seorang senior dari Bengkel Sastra, kak Oji untuk memilihkan satu naskah yang menurutnya pas dibawakan oleh saya ketika hari penampilan nanti. Dengan cepat beliau menawarkan Prodo Imitatio sebagai naskahnya. Saat itu juga saya coba browse di internet dan mulai membacanya esok hari ketika perjalanan ke kampus di kursi belakang sebelah kiri Transjakarta. Prodo Imitatio, naskah yang awalnya saya kira membosankan. Sempat saya remehkan naskah ini karena saya sama sekali tidak merasakan kesan wow ketika membacanya.
            Tapi, seperti yang kita tahu bahwa rasa sayang akan muncul lama kelamaan. Setelah kak Oji bilang bahwa naskah ini membawanya memenangkan Juara 2 Festival Seni UNJ dua tahun lalu dan calon sutradara saya, kak Mussab yang pernah membawakan naskah ini dua kali disaat penampilan untuk ospek dan membawanya pula memenangnkan Juara 3 Festival Seni UNJ di tahun yang sama dengan kak Oji. Saya kira, kak Oji yang akan menyutradarai saya untuk monolog ini. Tapi karena ia sudah sibuk menyutradarai senior saya yang juga sedang mengikuti lomba monolog di UIN, maka saya disarankan untuk meminta bantuan kepada kak Mussab yang sama sekali belum memegang siapapun (saat itu beberapa anggota Bengkel Sastra sedang mengikuti lomba monolog dan membaca puisi di UIN). Jadilah official director of Prodo Imitatio untuk Bima Dewanto di penampilan minat dan bakat Duta Bahasa DKI Jakarta adalah Mussab Askarulloh.
            Tetapi, dalam beberapa waktu naskah ini masih dalam pertimbangan saya. Pasalnya, broadcast tentang Festival Seni UNJ (FSUNJ) baru saja masuk ke ponsel saya dan tidak lama ramai di bicarakan di setiap latihan di Bengkel Sastra. Mata lomba dari FSUNJ antara lain: cipta poster, cipta puisi, cipta esai, cipta cerpen, komik strip, baca puisi, monolog, menyanyi, dan masih banyak lagi. Dengan cepat pasti pilihan saya jatuhkan kepada cipta poster tanpa peduli ada lomba lain didalamnya. Namun, saya sempat merasa senang melihat beberapa anggota Bengkel Sastra yang setiap selesai latihan rutin mereka tambahkan dengan latihan monolog untuk lomba di UIN. Akhirnya saya putuskan untuk mengikuti lomba monolog juga. Di sinilah letak pertimbangan naskahnya yang memakan waktu cukup lama untuk diputuskan. Masalahnya, saya belum tahu naskah apa saja yang dilombakan di FSUNJ. Karena saya tidak mau latihan dua kali dengan naskah yang berbeda antara di seleksi Duta Bahasa dengan FSUNJ. Saya berharap, FSUNJ menyertakan Prodo Imitatio sebagai salah satu naskah yang dibawakan ketika hari nya berlangsung.
            Kebetulan saya tidak begitu peduli dengan seleksi Duta Bahasa. Yang menjadi prioritas saya saat ini sebenarnya lebih condong kepada Festival Seni UNJ ini dimana pemenangnya akan dikirmkan menuju Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) sebagai perwakilan dari UNJ. Maka dari itu, naskah yang akan saya bawakan untuk penampilan di Duta Bahasa tergantung dari naskah yang disediakan di FSUNJ nanti.
            Singkat cerita, saya mulai mendaftarkan nama saya untuk lomba desain poster dan monolog di meja pendaftaran FSUNJ bersama Trisda, kawan yang saya paksa untuk ikut lomba monolog juga. Saat itu juga saya tanyakan tentang naskah apa saja yang harus dibawakan untuk lomba dan voila! Prodo Imitatio ada di dalam tabel daftar naskah monolog di urutan ke lima tepat di bawah naskah Aeng karya Putu Wijaya. Prodo Imitatio karya Arthur S. Nalan, naskah yang akan saya bawakan baik di seleksi Duta Bahasa dan di lomba monolog Festival Seni Universitas Negeri Jakarta.
            Lomba akan dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2017, sementara penampilan bakat Duta Bahasa akan dilaksankan pada tanggal 4 Mei 2017. Tugas pertama saya adalah untuk memfokuskan terlebih dahulu untuk penampilan di Duta Bahasa. Setidakpedulinya saya terhadap seleksi ini, saya tetap harus menampilkan yang terbaik untuk menunjukan bahwa teater tidak sembarangan di mata para finalis Duta Bahasa yang mayoritas bukan dari jurusan sastra. Saya juga menjadikan penampilan ini sebagai uji coba dan evaluasinya akan digunakan untuk memperbaiki penampilan saat lomba di FSUNJ nanti.
            Latihan hari pertama, saya bertemu dengan sutradara ditemani dua teman saya, Dini dan Trisda yang seharusnya Trisda juga latihan monolog hari ini namun sutradaranya memilih untuk absen. Trisda akan membawakan naskah Anak Kabut karya Putu Wijaya nantinya. Latihan hari ini masih tentang reading dan membahas naskah. Kak Mussab sebagai sutradara mengarahkan dengan amat sangat baik bagi saya untuk dengan mudah mengerti naskah ini. Ia juga mengarahkan dimana penekanan seharusnya diadakan di setiap dialog yang memerlukan.
“…segala sesuatu yang menyangkut pemberian gelar diselesaikan dengan sejumlah uang segala sesuatu yang menyangkut pemberian gelar diselesaikan dengan sejumlah uang…”
            Pada dialog ini dan seterusnya, kata uang harus menjadi permasalahan utama dari naskah ini. Uang adalah alat yang sangat dipentingkan dalam setiap…. Sebentar, saya belum menceritakan tentang naskah ini secara garis besar. Begini.
            Prodo Imitatio adalah seorang professor doktor yang lulus bukan karena kemampuan dan keahliannya melainkan karena uang. Prodo Imitatio juga merupakan rector dari University of Zuzulapan yang berpusat di Amarakua. Terdapat dua babak dalam naskah ini. Pertama disaat Prodo menawarkan sebuah produk kepada semua penonton yang ia anggap sebagai mangsa pasar nya. Produk itu adalah gelar. Prodo menawarkan kepada penonton gelar apa saja mulai dari gelas S1 hingga professor tanpa harus susah payah menjalankan kegiatan akademis melainkan dengan uang. Dalam naskah ini, Prodo juga membuat pengakuan bahwa sebagian besar orang yang telah lulus menjadi doktor merupakan hasil dari penjualan yang dilakukannya. Ia mengatakan bahwa semua orang yang menjadi tokoh besar merupakan output dari bisnis yang ia jalankan. Sebagian besar orang itu lulus bukan karena keahlian mereka melainkan karena permainan uang. Sama seperti masa dimana Prodo menjalankan sekolahnya. Ia hidup dengan uang orangtua yang meradang dan bertebaran di sekolah-sekolah demi membuat anaknya naik kelas walau ia malas dan sering absen.
         
   Pada babak kedua, Prodo mendekam di balik jeruji besi. Di dalam sel, ia tidak merasakan keterpurukan. Ia mengaku bahwa walaupun dirinya mendekam di sini, ia masih memiliki anak buah yang menjalankan bisnis jual gelar di luar sana. Ia menyesalkan kepada penonton akan sistem hukum di negeri yang ia tempati ini. Prodo merasa yakin bahwa yang seharusnya ditahan adalah pembelinya yang kini menjadi orang-orang besar, bukan penjulanya yang kini mendekam di penjara.
            Kembali ke topik pembahasan soal latihan hari pertama. Pada hari ini, latihan belum sampai pada tahap blocking. Saya masih harus belajar tentang penekanan pada naskah dan kalimat penting yang tidak saya lewatkan begitu saja.
            Besoknya, saya datang pagi ke kampus walaupun kuliah dimulai pukul satu siang. Tepat pukul Sembilan saya duduk perpustakaan dengan naskah yang berada di atas meja. Sama seperti halnya menghafal naskah ketika pementasan ‘TIK,’ lalu, kini saya menghafal naskah Prodo Imitatio di perpustakaan juga. Tempat ini sangat nyaman untuk menghafal, suasananya hening. Di sini saya juga membentuk penekanan pada setiap dialog yang saya hafal. Untuk hari ini, target saya hanya menghafal babak satu saja. Latihan selanjutnya adalah lusa dimana saya berencana untuk membawa properti yaitu koper. Dan pada latihan saat itu, sutradara masih tetap menahan saya dalam proses reading belum blocking.
            Pada latihan hari ini, semua teman-teman Bengkel Sastra yang mengikuti lomba monolog di FSUNJ juga latihan bersama sutradaranya masing-masing. Trisda yang membawakan naskah Anak Kabut bersama dengan Tiyas yang membawakan naskah Tolong karya N. Riantiarno. Keduanya dipegang oleh kak Despian. Adi yang membawakan naskah Aeng karya Putu Wijaya disutradarai oleh kak Juanda. Semua focus dengan latihannya masing-masing hari ini. Hari ini juga saya merasa reading pada naskah yang saya bawakan lebih baik dari hari sebelumnya. Namun, satu hal yang membuat saya kaget adalah kedatangan Ical Vrigar yang duduk disamping saya ketika saya membaca naskah bersama sang sutradara. Tanpa pembukaan apa-apa, ia mengatakan bahwa pembacaan saya belum terkesan di telinganya. Ia menyayangkan vocal saya yang bagus namun pembacaan saya yang menurutnya masih belum membuatnya mengerti. Dari sini, saya mulai menyadari kekurangan dan kelebihan yang saya punya. Pertama, naskah Prodo Imitatio adalah naskah komedi dimana setiap dialognya mengharuskan saya untuk bertingkah ceria. Tertawa disetiap dialog harus menjadi ciri khas dari Prodo sendiri. Sedangkan dalam reading hari ini saya merasa bahwa tertawa saya masih sangat sedikit dilakukan. Kedua, saya mulai mengetahui akan vocal saya yang baik dalam berdialog. Memang sangat amat disayangkan jika tidak saya pergunakan dengan baik. Saat itu juga saya berpikir dan langsung meminta kepada sutradara untuk menghentikan latihan hari ini dan berencana untuk mengkaji lagi naskahnya besok bahkan nanti ketika perjalanan pulang saya di Transjakarta.
            Hari sudah semakin dekat dengan penampilan minat dan bakat Duta Bahasa. Saya meutuskan untuk menampikan babak satu dari naskah ini karena waktu yang disediakan panitia tidak memadai, 3 menit. Itupun juga banyak dialog yang saya lewatkan. Semua properti sudah siap mulai dari koper, buku-buku tebal, jubah wisuda, hingga toga. Blocking juga sudah diatur sedemikian rupa untuk penampilan besok. Make up, serahkan kepada bu Rista, senior Bengkel Sastra yang dengan baik hati mau menolong saya dengan datang pagi-pagi ke kampus dan mulai mendandani saya menjadi Prodo Imitatio ala dirinya.
            Dan ini harinya, sedari pukul tujuh foundation dan bedak sudah menempel lekat di wajah saya. Mempersiapkan diri untuk penampilan maksimal yang seharusnya tidak perlu. Tapi dari sinilah ukuran keberhasilan saya membawakan Prodo Imitatio untuk FSUNJ nanti. Setelah naik ke atas panggung, perasaan nervous pasti ada. Namun saya sering menganggap panggung adalah teman saya. Jadi, berbaik hati ya, teman…
            Yang saya senang dari pertunjukan ini adalah tawa dari penonton. Memang tertawa bukanlah tolak ukur keberhasilan suatu pementasan, namun suara tawa yang saya dengan mampu membuat saya lebih semangat dalam membawakan dialog selanjutnya. Saya mengartikan tawa adalah respon dari penonton dan tanda bahwa mereka masih konsisten menatap saya di atas panggung.  
“Salam Imitatio! Viva Profesores Prodo!”
___
Fokus menuju Festival Seni UNJ. Semua peserta latihan setiap malam setelah latihan rutin Bengkel Sastra. Blocking yang saya lakukan sudah full dari awal hingga akhir. Hanya tinggal mengembangkannya setiap latihan.
“Viva Profesores Prodo!”
Kata ‘viva’ yang saya teriakan merupakan satu dari dialog paling favorit yang saya suka. Selanjutnya adalah tertawa dan terus tertawa sepanjang pertunjukan. Yang saya kagumkan dari sutradara yang mampu membentuk karakter Prodo baik sesuai keinginannya dan kemampuan saya. Prodo ala Bima adalah Prodo yang memiliki kecakapan dalam marketing communication. Prodo yang sangat pintar merayu orang untuk membeli produknya hanya dengan mulut manis yang menjanjikan. Hingga jadilah saya disebut sebagai Bima The Salesman.
Pertama kali saya menemukan bahwa Prodo adalah sales marketing dengan komunikasi yang bagus, referensi saya langsung tertuju kepada salah satu perusahaan yang pernah meminta saya untuk mendesain kemasan produknya. Perusahaan yang sebagian besar adalah teman-teman sekolah saya. Perusahaan yang pernah mempersilakan saya menyaksikan bagaimana para sales nya latihan untuk mempresentasikan kepada mangsa pasar untuk membeli produknya. Voila! Tidak cukup dari situ, saya langsung mengingat kembali seseorang yang mampu bernegosiasi dengan baik. Yaitu salah satu teman saya ketika bekerja di salah satu hotel di bilangan Kebayoran Lama.
Hingga terbentuklah karakter salesman yang saya inginkan. Selanjutnya tinggal bagaimana memainkan beberapa monoplay yang tedapat dalam naskah ini. Sebenarnya ada dua monoplay yaitu sebagai ibu Prodo dan sebagai Sipir. Tapi saya menambahkan dua monoplay dan menghilangkan dialog sipir. Monoplay pertama adalah ketika Prodo menceritakan tentang sejarah pemberian gelar. Dalam naskah, Prodo menceritakan sejarah ketika masa kerajaan. Di sini saya berubah menjadi seorang dalang Jawa yang menceritakan sejarah itu. Kemudian di dalam naskah, Prodo menceritakan sejarah di masa penjajahan. Tidak lain saya bertransformasi lagi menjadi seorang Belanda yang seakan-akan menceritakannya. Kemudian pada adegan selanjutnya dimana ibu Prodo memanggilnya untuk berangkat ke sekolah.
Selanjutnya, adalah adegan ketika Prodo bernyanyi. Saya sengaja menghilangkan dialog ini karena saya rasa susah untuk membuat dialog ini terdengar menarik bagi saya. Bahkan saya merasa dialog saat Prodo bernyanyi akan terkesan garing karena liriknya yang diganti.
Masuk kepada babak dimana Prodo sudah berada di dalam sel. Yang menjadi favorit adalah ketika Prodo mengejar kecoa. That was so fun! Sutradara mengarahkan saya untuk mengejar kecoa itu, bukan hanya menangkapnya. Kemudian, adegan ketika Prodo membaca Koran. Sepanjang latihan sampai pertunjukan, saya tidak pernah menghafal dialog ini. Rencana saya adalah menempel lembaran ini di dalam Koran yang akan dibaca oleh Prodo nantinya. Dalam babak ini, kekonyolan Prodo menurun namun tetap pada standar si Prodo. Saya memainkannya lebih santai namun tetap harus ada gelak tawa.
“Yang harus ditangkap itu pembeli bukan penjual!”
___
            Dua hari sebelum lomba di mulai. Ini adalah hari terakhir untuk latihan. Bukan, bukan latihan. Ini running dimana semua peserta monolog dari Bengkel Sastra baik yang lomba di FSUNJ maupun di UIN harus menunjukan hasilnya didepan teman-teman, senior, dan sutrdara lainnya. Malam ini, semua akan dievaluasi untuk pertunjukan yang matang esok hari. Ada satu senior yang mengatakan bahwa saya bisa menjadi harapan untuk maju mewakili menuju Peksimida. Namun saya hanya mengiyakan, toh saya tidak mencari kemenangan lewat monolog ini melainkan kemenangan pada lomba desain poster yang sudah terlaksana sebelumnya. Maaf.
            Setelah menampilkan hasil dari latihan selama berminggu-minggu, beberapa kritik dan saran saya dapat malam itu juga. Pertama, saya masih kurang all out dalam menampilkannya. Lagi-lagi tertawa yang masih sedikit. Kemudian mengenai gerak yang masih ragu. Tetapi setelah itu untuk kesekian kalinya, vocal saya disanjung. Beberapa senior mengatakan saya memiliki bekal vocal yang baik. Maka dari itu, sayang bila saya tidak total dalam pertunjukan ini. Dan satu hal penting, tempo. Dirasa saya masih terlalu terburu-buru dalam membawakannya. Oke, let's do it better, baby!
            Malam ini juga, saya berlatih untuk cepat berganti kostum ketika black out dan mulai masuk ke babak selanjutnya.
___
            Hari perlombaan dimulai. Sedari pagi saya sudah menunggu di gedung Sertifikasi Guru bersama Trisda dan Tiyas. Dua teman yang setia dan kompak saat latian. Cukup membantu. Sangat membantu. Sangat. Mereka berdua yang menjadi teman saya ketika latihan pada malam hari. Mereka yang mengantar saya bolak-balik ruang BEM untuk mengambil koper. Pernah satu malam kami bertiga pulang larut karena saking asiknya menikmati latihan pada malam itu.
            Lanjut cerita, pagi ini juga segala bentuk riasan dan kostum sudah siap kami kenakan. Saya adalah peserta nomor urut tujuh. Namun sepertinya saya menjadi nomor urut lima karena dua orang peserta sebelumnya tidak atau belum datang. Sepanjang menunggu antrian, saya usahakan untuk menghilangkan gugup dengan terus berbicara baik sendirian maupun mencari korban yang akan menjadi pendengar saya.
Dan, selalu begini. Saya kedatangan teman-teman dimana satu diantaranya adalah tamu rutin. Aya, yang selalu ada disetiap acara yang saya ikuti. Ditemani Dania, Angel, Dini, dan Uly, mereka datang untuk menyaksikan lomba monolog secara keseluruhan. Tapi tetap saja, mata kuliah tidak boleh ditinggalkan. Dan, waktunya adalah sama dengan waktu dimana saya tampil. Setelah ishoma. Sayang sekali. Tapi, tetap saja kedatangan mereka membuat saya tambah semangat untuk menampilkan yang terbaik.
This time to show, dengan penataan musik dan lampu yang mendadak. Baru saja saya di briefing oleh sang sutradara tentang cara masuk panggung. Ia yang akan memegang kendali untuk iringan music. Saya harus masuk ketika dua kali irama gitar telah berbunyi. Namun ketika sudah sampai ditengah panggung, posisi tubuh saya harus statis sampai lampu nyala dan mulai memasang senyum paling menjijikan yang pernah orang lihat. Penyesalannya adalah, andaikan saya menjadikan Captain Jack Sparrow sebagai referensi untuk teknik pemunculan ini, maka senyum pembukaan saya akan lebih disgusting.
Selanjutnya, dialog yang paling saya suka. “Viva Profesores Prodo!”. Godamn! Pertunjukan terus berjalan hingga adegan dengan dialog, “Saudara-saudara, uang adalah alat pembeli gelar…”. Dengan bodohnya saya lupa harus berkata apalagi selanjutnya. Hampir gagap, hampir blank hingga saya skip menuju dialog terdekat yang saya tahu.
“Dan dewa penolong itu adalah…Saya!” Dibantu dengan iringan gitar dari sutradara yang tidak pernah direncanakan sebelumnya, I do enjoy this part.
Adegan demi adegan berjalan mulus sesuai dengan rencana. Saya semakin menikmati setiap dialog yang saya ucapkan. Eye catching yang tidak pernah lepas selalu saya tujukan ke setiap arah dengan tatapan pasti walaupun saya tidak melihat penonton karena kondisi ruangan yang gelap. Tapi, mata saya harus tetap tertuju kepada setiap penonton. Mereka adalah mangsa pasar saya.
Hingga tiba pada babak dua, di sel. Lagi-lagi saya harus salut dengan sutradara yang kini tengah asik dengan gitarnya. Adegan ketika saya merangkak mengejar kecoa. Setiap langkah saya pasti ada alunan gitar jahil yang mengiringinya. I really do enjoy this part (2), unplanned.
Babak dua pun berjalan mulus. Tempo yang malam sebelumnya dikira terlalu cepat kini sudah bisa dihilangkan karena diri saya yang semakin mampu menikmati setiap dialog. Sampai pada bagian akhir dimana Prodo naik pitam. Saya berdiri beranjak dari koper yang say tutup dengan jubah wisuda. Menggenggam Koran yang sebelumnya dilempar oleh sipir dan kembali menghadap sipir dengan meneriakkan, “Yang harus ditangkap itu pembeli bukan penjual!”
___
            Dari sepanjang proses yang saya jalani untuk menjadi seorang Prodo Imitatio, dapat ditarik benang merahnya bahwa Prodo adalah orang yang berbakat dalam bisnis. Prodo adalah orang yang sangat cerdik. Ia masih mampu menggerakan tali boneka para penjual gelar bawahannya walaupun ia ada di dalam penjara.
            Selesai lomba FSUNJ, pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Beberapa hari setelahnya, pengumuman berlangsung. Menantikan semoga salah satu diantara dua mata lomba yang saya ikuti mendapatkan satu saja juara. Bukan salah tuhan, do’a dan target utama saya adalah tentang desain poster.
            “Juara satu lomba desain poster jatuh kepada peserta dengan nomor urut…”
            Saya lupa nomor urutnya, tapi itu adalah nomor urut saya dan nama saya. Sementara untuk lomba monolog, selamat saya ucapkan kepada Tiyas. Rasa bangga dan bahagia tidak lepas dari kami. Kami: saya, Tiyas, dan Trisda yang sama-sama berharap satu diantara kami ada yang menyabet kemenangan akan lomba monolog disini.
            Prodo Imitatio, seorang Bima Dewanto tingkat kotor. Prodo Imitatio adalah saya kemarin. Sekali lagi untuk kebosanan yang tidak pernah datang saya mengucapkan terimakasih kepada karakter yang saya mainkan. Dan untuk kali ini, berarti saya berterimakasih kepada Prodo Imitatio alias Lay Apusi. Dasar kriminal!
“Mereka menjadi orang-orang penting di Manaboa ini!” –Prodo Imitatio
Share:

Senin, 13 Februari 2017

Kisah Dibalik Layar: Kerasukan Polisi Ganteng




Dalam produksi ke-36 Bengkel Sastra, Senin 16 Januari 2017 yang membawakan sebuah naskah drama TIK, karya Budi Yasin Misbach, saya diberikan kesempatan untuk memainkan satu tokoh yang terdapat di dalamnya yaitu Petugas 3. Dalam naskah ini, Petugas 3 digambarkan sebagai tokoh yang kharismatik, flamboyan, digandrungi banyak wanita karena kelihaiannya merayu, tampang, dan posisinya sebagai petugas keamanan. Namun ia juga memiliki karakter sebagai lelaki yang lebih lemah dibandingkan lawan mainnya yaitu Petugas 2.
Untuk penjelasan lebih lanjut, mari kita simak penjelasan di bawah ini.





Nama Lengkap            : Asrul Hamdalah
Nama Panggilan          : Asrul, Cabul
Umur                           : 37 tahun
Status                          : Kawin
Pekerjaan                    : Petugas Keamanan


Mengenal Lebih Jauh ‘Asrul si Petugas 3 yang Cabul’

Asrul adalah seorang petugas keamanan senior yang bekerja dibawah naungan SANS (Satuan Kemananan Sekitar). Asrul bekerja setiap hari bersama teman seperjuangannya, Susi (Petugas 2) dan dibawahi oleh Petugas 1.
            Asrul adalah sosok lelaki hidung belang yang mampu memikat hati wanita dengan karakter kharismatiknya. Dalam kesehariannya, Asrul tidak pernah kehabisan cara untuk bisa bergaya didepan wanita yang dianggapnya cantic dan menarik. Itulah sebabnya, kini Asrul memiliki tiga istri yang dinafkahinya dengan gaji dari SANS yang sangat cukup. Namun dengan begitu, tidak mengurangi pesona Asrul karena kelihaiannya menyembunyikan beban yang dirasakannya dirumah bersama ketiga istrinya.
            Asrul tidak pernah suka membawa urusan rumah keluar. Menurutnya, status memiliki tiga istri akan mengurangi pesonanya sebagai pria yang flamboyant. Asrul merasa poinnya akan berkurang jika orang yang belum mengenalnya tahu akan statusnya yang merupakan tukang poligami itu.
            Kesehariannya bersama Susi menjalankan tugas untuk mengamankan daerah sekitar berjalan sangat asik. Padahal, umur Asrul dan Susi terlampau jauh karena Susi yang 10 tahun lebih muda darinya. Asrul merasa Susi adalah partner yang mampu menutupi kekurangannya karena sikap Susi yang tegas dan cekatan. Asrul juga merasa nyaman dengan bahasa Susi jika berkomunikasi dengannya tanpa memandang usia. Menurutnya, dengan begitu malah mengurangi rasa canggung diantara keduanya. Hubungan Asrul dengan Petugas 1 juga berjalan sangat professional. Petugas 1 mengerti betul takaran yang pas bagi Asrul untuk menjalankan tugas.
Secara psikis, Asrul memang tipe lelaki yang hanya berani menghadapi orang yang ia rasa kedudukannya ada di bawahnya. Asrul tidak segan-segan membawa pelaku kejahatan yang ia tangkap untuk masuk menemui atasannya. Dalam pementasan Bengkel Sastra kemarin, terlihat ketika adegan awal Asrul dan Susi membawa si maling televisi (Wardana) ke dalam panggung, lalu Asrul ditanya oleh salah satu pengunjung kantor, ia mampu menjawabnya dengan santai tanpa takut si maling itu tersinggung. Sifat Asrul yang sudah lihai menangani pelaku kejahatan terlihat di adegan ini.
Kemudian, ketidaksukaan Asrul ketika ada orang yang membawa urusan rumahnya tergambarkan lumayan banyak pada pementasan kemarin. Gerak-gerik Asrul yang terlihat kesal ketika Susi menyinggung ketiga istrinya, sautan “jangan bawa-bawa dapur orang!” yang ia teriakan dua kali pada saat Seseorang 2 (Pemulung) mengolok-oloknya dan ketika Wardana yang berusaha menjelaskan perkara kejadian namun membawa statusnya.

           
Bagaimana saya membawa Asrul ke atas Panggung?
1.      Sebelum Pementasan
Beban sekali awalnya ketika sutradara memutuskan bahwa tokoh Petugas 3 akan dibawakan oleh saya sendiri. Awalnya, saya mengincar tokoh Petugas 2 karena karakternya yang mudah saya kaji yaitu omongannya yang ketus serta cuek. Tapi karena sutradara melihat karakter Petugas 3 lebih melekat kepada saya, maka saya coba untuk memberanikan diri membawanya hadir dalam diri saya.


           
 Pada awal pengkajian, saya mencari-cara tokoh yang mirip dengan karakter Asrul. Akhirnya saya mendapatkan Inspector Clusseao dalam film Pink Panther, Kasino, dan Polisi dalam film Koi Mil Gaya yang diperankan oleh Johny Lever. Tapi keputusan saya jatuh kepada Kasino karena menurut saya lebih cocok dengan karakter Asrul. Tugas saya kini mengkombinasi karakter ‘ganteng-ganteng zonk’ ala Kasino dan cabul ala Asrul yang saya buat sendiri.
            Setiap minggu saya selalu membicarakan nasib peran saya dengan sutradara. Mulai dari gerak tubuh yang awalnya saya buat Asrul sering memainkan dagu dengan tangannya, suara Asrul yang diberatkan, hingga gerak tubuh Asrul yang tidak bisa diam ketika panic. Apalagi gemetaran yang saya bentuk ketika Asrul takut memegang pistol karena belum siap menurutnya.  Karakter genit juga melekat sangat kuat dalam pribadi Asru. Contohnya saja ketika tiap kali ia bercanda dengan rekannya, Petugas 2 dengan merayunya.
            Beberapa kali blocking, saya pernah mendapatkan pujian karena mampu membawakan peran Petugas 3 yang dinilai cukup baik. Tapi, pujian itu malah membuat saya bingung karena saya tidak tahu dari sisi mana orang-orang melihat saya pas membawakan karakternya.
            Namun, beberapa minggu setelahnya pujian itu menjadi pertanyaan. Kenapa di umur Asrul yang terbilang cukup dewasa masih bertingkah layaknya laki-laki remaja yang centil? Tidak terlihat kalau status Asrul yang memiliki tiga istri. Lalu, kenapa komunikasi Susi dan Asrul seperti tidak ada batasan umur?
            Sepulang latihan, saya terus memikirkan hal itu. Awalnya saya beranggapan benar bahwa saya tidak menampakkan karakter sebagai lelaki yang memiliki tiga istri. Kemudian saya juga tersadar dengan gaya komunikasi dengan Petugas 2 yang memang seperti tidak ada batasan umur. Hampir saya memutuskan untuk merubah semua sifat yang saya dapat dari pertanyaan barusan. Tapi setelah saya telusuri lebih lanjut, menurut saya apa yang saya bawakan sebagian besar sudah pas.
            Karakter Asrul yang centil-nya seperti anak remaja memang harus saya kurangi bukan menghilangkan. Sifat Asrul yang selalu siap memasang pesona ketika melihat wanita yang dirasanya menarik membuat tingkah Asrul yang centil seperti remaja tidak bisa lepas. Ia merasa dirinya masih dalam usia yang pantas untuk mencari kenikmatan terutama perempuan. Gaya Asrul juga tidak bisa dibilang tua, bahkan menurut saya umur Asrul yang sudah kepala tiga tidak menjadi masalah baginya untuk berbuat demikian.
            Kemudian refleksi suami beristri tiga yang tidak terlihat. Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa Asrul sangat tidak suka bila ada orang yang mengungkit-ungkit masalah rumah tangganya apalagi tentang jumlah istri. Asrul selalu merasa bahwa pesona sekaligus kedudukannya sebagai polisi mampu menarik perhatian perempuan. Jika sampai ada perempuan yang dirasanya menarik mengetahui jumlah istrinya, Asrul akan kehilangan banyak sekali pesona yang sudah ia jaga.
            Komunikasi Asrul dengan Susi si Petugas 2. Saya mengingat kembali pengalaman saya ketika bekerja. Saya bisa membedakan bagaimana lingkungan kerja yang terjun ke lapangan dan yang hanya duduk di kantor. Ketika berkomunikasi sesama rekan kerja di lapangan, rekan saya memanggil orang yang lebih tua dengan ‘lu, gua, bangsat, anjing’ dan kalimat kasar lainnya tanpa mengenal batasan usia. Sementara untuk pekerja kantoran yang sangat menjaga kehormatan, ucapan selamat pagi menjadi sarapan sehari-hari dan itu mencerminkan kesantunan dari para pekerja kantoran. Begitupun dengan Asrul dan Susi yang merupakan pekerja lapangan. Asrul pun juga merasa komunikasinya dengan Susi malah menghilangkan rasa canggung terhadap keduanya. Jadi keesokan harinya saya jelaskan bagaimana karakter Asrul saya bentuk seperti ini.
            Memerankan tokoh Asrul juga merupakan sulit menurut saya. Apalagi sifat saya yang bisa dibilang tidak bisa tegas sebagai pria. Sementara saya dipaksa untuk bisa menggambarkan sosok polisi yang sudah bekerja selama tahunan.
            Yang menarik adalah ketika saya berusaha berlatih memegang pistol yang benar. Awalnya saya bertanya kepada beberapa senior yang sudah pernah menjalankan suatu peran di atas panggung. Jawaban yang saya dapat pun juga berbeda. Ketika saya menonton film aksi, cara memegangnya pun sangat santai hanya dengan satu tangan. Tapi saya memanfaatkan internet untuk mencari caranya. Akhirnya saya mendapatkan bagaimana memegang pistol yang benar dalam posisi bersedia.
            Pistol yang awalnya saya gunakan untuk latihan sebenarnya adalah korek api berbentuk pistol yang sudah tidak berfungsi lagi. Awalnya, pistol yang saya gunakan merupakan pistol terbaik daripada yang seluruh petugas punya. Petugas 1 memgang pistol dengan pelatuk yang patah. Petugas 2 memegang pistol mainan anak-anak berwarna merah muda. Tapi, seiring berjalannya latihan lama kelamaan pistol yang saya gunakan hancur tidak berbentuk. Pistol yang saya gunakan kerap kali ikut terjatuh bersama saya yang melakukan adegan jatuh. Satu minggu, pistol terpecah bagian depannya sehingga masih bisa saya gunakan. Kemudian jatuh lagi hingga bagian lain ikut terpecah. Hingga akhirnya pistol itu terbelah menjadi dua bagian namun masih bisa saya gunakan. 

2.      Detik-detik Pementasan
            Ini adalah satu hari sebelum menuju pementasan. Kami melakukan gladi kotor di Aula S tempat kami akan pentas besok. Ketika gladi pertama, adegan kami sempat diberhentikan oleh sutradara karena pembawaannya terlalu cepat. Kemudian saat gladi yang kedua, waktu memang sudah pas yaitu 54 menit, 44 detik, dan 4 milidetik. Namun kesalahan terjadi di tengah-tengah adegan. Salah satu actor lupa menyuarakan dialog-nya sedangkan actor lainnya bingung untuk bagaimana cara menutupinya dengan improvisasi. Saya berusaha melanjutkan adegan dengan improve walaupun itu kurang tepat, tetapi setidaknya bisa membuat adegan berjalan kembali.
            Berikutnya, saya akan menceritakan tentang tata rias karakter. Awalnya, tim make-up kesulitan membentuk wajah saya sesuai karakter Asrul yang tampan dan kharismatik. Sangat berbeda kaih dengan bentuk wajah saya yang oval dan mata yang sipit. Ketika hari H pementasan, nasib saya tata rias saya sebenarnya tergantung oleh salah satu alumni Bengkel Sastra yang sudah dipesan untuk meng-handle tata rias Asrul. Setelah ia datang, semua actor di touch up lagi guna mempertajam wajahnya sehingga terlihat jelas di panggung. Begitupun dengan saya yang terlihat jauh sekali perbedaannya ketika workshop make-up dan sekarang. 



3.      Kita Pentas Hari Ini
            Saatnya kita pentas. Gladi bersih kita lakukan kembali. Hasilnya harus bisa lebih baik dari ini. Semua actor bersembunyi di balik wing yang sangat kecil di atas panggung. Membuat actor sulit untuk bergerak dan berpindah posisi. Tapi kami mencoba untuk menahannya demi adegan yang akan kami jalankan nantinya.
            Belum lagi kostum Asrul yang melarang saya menggunakan kacamata karena mencerminkan seorang polisi. Membuat penglihatan saya blur dan membuat mata saya sakit selama pertunjukan berlangsung. Tapi karena saya sudah membiasakan diri untuk melepas kacamata ketika seminggu terakhir latihan, maka rasa sakit itu tidak terlalu terasa sama seperti ketika latihan.
            Adegan satu dimulai dimana lagu opening dimainkan dan silent acting antara Petugas 1 dan para tamu pelapor beraktivitas di kantor SANS. Berikutnya adalah adegan dimana Asrul dan Susi membawa Wardana, si maling televisi masuk ke panggung. Semua berjalan baik hingga di sini. Kemudian adegan berikutnya ketika Asrul dan Susi masuk terbirit-birit melaporkan situasi di luar kantor yang penuh dengan keributan pemulung. Adegan selanjutnya, saya terjatuh.
Ngomong-ngomong adegan jatuh, ini ada ceritanya. Pada naskah asli, Asrul seharusnya pingsan ketika melihat para pemulung datang saat ia sedang mencemoohnya didepan Petugas 1. Perlahan saya jalani cara pingsan yang bagus ketika di panggung hingga saya memberanikan diri berpendapat bahwa adegan pingsan yang selama ini saya lakukan akan terlihat ‘lebay’. Banyak dialog saya yang terkesan garing, makanya saya berusaha menghilangkan adegan pingsan tersebut. Akhirnya adegan pingsan itu diganti dengan adegan jatuhnya Asrul dan Susi ketika para pemulung berusaha mendorongnya agar bisa masuk ke kantor SANS.
            Ketika latihan, adegan jatuh ini selalu lancar kami lakukan. Tapi, ketika di atas panggung dengan property yang sudah lengkap, kejadian tak terduga terjadi. Padahal waktu gladiresik, semua berjalan aman dan saya sudah bisa memperkirakan dimana saya akan jatuh nanti. Pertunjukan sudah dimulai, saya berusaha menjalaninya sama seperti gladiresik yang dinilai sutradara sudah pas takarannya. Ketika para pemulung mencoba mendorong saya masuk, betis saya menabrak kursi sehingga bokong saya jatuh di atas kursi lalu jatuh lagi di atas panggung. Sakitnya sangat terasa saat itu hingga saya harus menahannya untuk masuk ke adegan selanjutnya. Tapi saya senang karena adegan jatuh itu terkesan alami.
            Yang hampir fatal lagi ketika saya mengubah posisi saya dengan berjalan mendekat ke Petugas 1. Hampir saya kaki saya tersandung kain hitam yang menutupi wing. Setelahnya, semua berjalan asik dan mulus. Saya menikmati semua adegannya. Asrul hidup di dalam diri saya saat itu.

4.      Setelah Pementasan
Lampu menyala, semua actor menikmati music penutupnya. Saya melihat semua penonton dengan mata saya yang masih blur. Saya menunggu penyebutan nama-nama pemain sampai selesai hingga saya dapat mengenakan kacamata saya kembali. Setelah itu saya mencari-cari orang yang sekiranya saya kenal di kerumunan penonton. Tidak ada.
Memang ini ulah saya karena tidak mengijinkan teman-teman dekat saya semasa sekolah dulu untuk ikut menyaksikan. Sehingga seperti ini akhirnya, tidak ada satu dari mereka yang menyaksikan pementasan ini. Saya mencoba meraih mikrofon yang terhubung ke kamera yang dipegang oleh salah satu tim publikasi guna membuat vlog yang nantinya akan di unggah pada channel Youtube Bengkel Sastra.
Saya dengar ada yang memanggil. Aya! Salah satu sahabat saya yang ternyata jauh-jauh datang pada malam hari guna menyaksikan pertunjukan ini. Wow! Senangnya bukan karuan. Masih ada satu orang yang setidaknya saya kenal. Aya datang bersama sahabatnya, Erin. Ucapan terimakasih tidak henti-hentinya saya haturkan kepada mereka berdua yang mau menyempatkan waktunya.
Dan inilah, perasaan lega dan bahagia setelah pementasan. Namun rasa haus untuk ikut proses timbul lagi tidak lama setelahnya. Pementasan ini bukan merupakan pementasan pertama yang saya jalani. Saya pernah ngaktor ketika SD dan terhenti ketika SMP hingga SMA.
           
Nyusahin gua aja lu, srul! Gua kan ogah jadi lu dua bulan beturut-turut. Tapi makasih dah ya udah bawa gue balik manggung lagi
-Bima-
Share:

Rabu, 08 Februari 2017

Ulasan Lakon 'Opera Kecoa' oleh Teater Koma

 
Kamis, 10 November 2016 adalah hari pertama dari pementasan Teater Koma yang ke-146 dengan lakon Opera Kecoa yang diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Lakon yang disutradarai oleh Nano Riantiarno ini berhasil membuat kagum para penontonnya. Baik penonton baru maupun penonton yang memang rutin menonton pementasan Teater Koma.  

Lakon ini menceritakan tentang bagaimana rakyat pinggiran diperlakukan oleh pemerintah selama ini, dan bagaimana permintaan-permintaan orang pinggiran, baik yang benar maupun yang aneh sekalipun. Roima (Bayu Dharmawan Saleh) dan Julini (Joind Bayuwinanda) adalah sepasang ‘hampir suami-istri’ karena mereka berdua adalah laki-laki. Karakter Julini merupakan seorang waria yang sedang mencari kehidupan baru, karena tempat tinggal mereka yang lama telah digusur oleh para petugas keamanan. Akhirnya mereka memutuskan untuk merantau ke kota dan menemui salah satu kerabat mereka yang ditemukan di salah satu berita di surat kabar.

Tuminah (Tuti Hartati) adalah seorang PSK yang bekerja di sebuah lingkungan nakal pimpinan Tarsih (Ratna Riantiarno) bersama PSK lainnya yang terancam digusur oleh petugas keamanan, karena Pejabat (Budi Ros) akan membuat sebuah proyek di lingkungan itu bersama dengan Tamu Asing (Rangga Riantiarno) yang datang dari Jepang. Tarsih terus mengeluhkan ancaman petugas-petugas itu dan merenungkan bagaimana nasib para karyawannya nanti. Ketika Roima dan Julini datang menemui Tuminah di lingkungan itu, awalnya Tarsih mencurigai kedatangan mereka karena mereka tidak sungkan memberikan bantuan kepada siapapun. Tapi ternyata kedatangan Julini membuat mereka semangat kembali untuk terus berjuang melawan orang-orang yang tidak berhak mengubah kehidupan mereka.

Kini Roima telah mendapat pekerjaan baru, yaitu sebagai seorang kepala keamanan (preman) yang dipimpin oleh Kumis (Didi Hasyim) . Begitupun dengan Julini yang kini menjadi tukang pijat plus plus bersama waria lainnya. Kehidupan mereka berdua kini lumayan menghasilkan. Semua yang mereka inginkan bisa mereka dapatkan. Namun ada satu masalah, yaitu waktu. Akibat pekerjaannya yang baru, Roima jarang sekali bertemu dengan Julini di rumah. Begitupun Julini. Namun suatu hari, Julini memergoki Roima tengah bercengkrama dengan Tuminah di depan rumah Tarsih. Julini kecewa dengan Roima dan meninggalkannya pergi. 

Sedangkan keadaan di lingkungan tempat Julini dan waria lain menyambung hidup tengah gaduh. Para petugas keamanan lagi-lagi berulah. Keributan terjadi antara kedua belah pihak. Ketika Julini datang dan menyempatkan duduk sebentar untuk merenungkan masalahnya dengan Roima, peluru menembus dada Julini dan tak lama setelah itu ia mati. Roima yang melihat itu serta-merta menangis menjerit, menyesal akan perbuatannya kepada Julini. Tidak terima dengan kejadian itu, Roima dan para waria mendatangi rumah Pejabat dan memintanya membuat sebuah Monumen Julini sebagai tanda penghormatan kepada para waria. 

Akhir dari pementasan ini adalah kebakaran besar yang melanda rumah Tarsih berikut lingkungan sekitarnya. Akibat dari kebakaran ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini murni kebakaran, atau sengaja dibakar?

Pementasan Teater Koma yang dihadiri oleh lima orang perwakilan Bengkel Sastra, dan lima orang perwakilan Kelas Apresiasi Sastra Universitas Negeri Jakarta ini menimbulkan kekaguman akan penggarapannya. Musik yang apik dan suara para aktor yang bagus membuat pementasan ini hidup. Penataan panggung dan properti yang digunakan merupakan penataan multifungsi namun tidak mengurangi pesan yang hendak disampaikan dari cerita tersebut. Kostum yang digunakan sebagai pendukung jalannya cerita juga sangat diperhatikan oleh mereka. Seperti biasa, Teater Koma memang selalu detail memerhatikan setiap aktor yang bermain di pementasannya. Kecepatan para aktor dan penata kostum mengganti pakaian dan riasan mereka membuat kami kagum. Satu lagi yang patut kami apresiasi dari pementasan ini adalah kemmapuan berperan para aktor. Dari mimik, gerak tubuh, hingga suara yang tidak berteriak namun terdengar hingga sudut teater. 

Bagian terpenting dari pementasan ini adalah pesan yang disampaikan dari keseluruhan isi cerita. Baik dari kalangan pejabat tinggi, menengah, hingga yang paling bawah sekalipun turut andil dalam pesan di cerita ini. Dari kelas atas yang terkesan hanya mementingkan diri sendiri dan melakukan cara apapun bahkan bisa mengorbankan banyak orang yang merupakan pilar baginya untuk berdiri sampai sekarang, juga orang-orang kalangan menengah yang tidak begitu peduli, hanya menuruti perintah dari golongan atas, dan hanya mementingkan kelanjutan hidupnya sendiri. Begitu pun dengan kalangan bawah yang selalu diinjak, dijadikan mangsa, dan menjadi korban dari segala masalah yang dibuat oleh orang-orang kalangan atas. Namun, yang patut kami acungkan jempol adalah kerja sama dan kebersamaan mereka dalam membela sesama, rasa keadilan yang terus tumbuh dalam benak masing-masing, juga cara-cara pintar mereka untuk membuat orang-orang di atas mereka sadar bahwa mereka perlu diperhatikan juga. 

Lakon Opera Kecoa sendiri telah dipentaskan oleh teater Koma sebanyak tiga kali. Pada tahun 1985, 2003, dan yang terakhir 2016. Lakon Opera Kecoa sempat diundang untuk pentas di Jepang. Dengan persiapan yang matang (surat-surat berangkat hingga tetek-bengek produksi). Namun pementasan itu batal, karena pementasan percobaan yang mereka lakukan di Graha Bhakti Budaya dicekal oleh polisi. Alasannya adalah karena Teater Koma tidak memiliki surat izin pementasan pada saat itu. Akhirnya semua persiapan yang telah matang tadi sia-sia dan harapan untuk pentas di Jepang gagal. 

Akhirnya pada tahun 2003, lakon Opera Kecoa dipentaskan kembali untuk kedua kalinya, dan dipentaskan untuk ketiga kalinya pada tahun 2016. Dari semua kejadian yang dialami oleh Nano Riatiarno, ia berharap agar tidak ada lagi pementasan teater yang dilarang. Karena melalui teater, semua pesan bisa disampaikan dengan cara tersendiri. 

“Semoga polisi dan juga penguasa melihat bahwa teater bisa membuat orang-orang melihat dengan hati, tidak hanya dengan mata. Hati akan melihat dengan lebih awas. Dengan hati kita akan bisa mengawasi nurani. Dengan hati kita akan melihat keadilan yang benar. Inilah doa kami semua, doa orang-orang seni pertunjukan.” Demikian pendapatnya perihal pementasan yang kerap kali dilarang.
Kerja bagus untuk Teater Koma. Kami akan setia menunggu pementasan berikutnya dengan harapan pementasan selanjutnya akan lebih hebat dari pementasan sebelumnya. 
 

Share:

Imajinasi Sosiologis: "Makna Lain Pria yang Merawat Diri"



Do what you love, and love what you do


Apa yang diketahui masyarakat tentang seorang pria adalah seorang makhluk hidup yang kesehariannya hanya disibukkan dengan ambisinya saja. Biasanya pria cenderung cuek akan segala hal yang menyangkut dirinya, terutama fisik. Mereka lebih sering memperhatikan hobi dan ambisi mereka. Untuk fisik, biasanya mereka cenderung mengikuti apa yang teman-temannya gunakan atau apa yang sedang hits pada masanya. Mereka tidak begitu peduli apakah yang dikenakannya cocok atau malah membuatnya terlihat amburadul, yang penting mereka tidak telalu jadul dan bisa-bisa menjadi bahan olok-olok oleh teman-temannya.
      Pada topik ini, saya akan menjelaskan tipe pria yang bisa dibilang bertolak belakang dari apa yang telah saya paparkan diatas. Pria yang merawat diri, pria yang peduli dengan dirinya baik jiwa maupun raga, pria yang setia pada konsistensi hidupnya untuk menuju sesuatu yang mungkin tidak seharusnya pria menuju itu. Topik yang akan dibahas berdasarkan pengamatan dan beberapa cerita akan saya ambil dari pengalaman hidup saya.



I.       Tentang Parfum Rambut
Berawal dari kejadian yang sering sekali saya alami ditempat yang sama, motor. Tidak jarang saya iseng pergi bersama teman perempuan saya entah itu dengan atau tanpa tujuan jelas, yang penting kami bisa keluar dari rumah untuk sekedar cuci mata. Tidak jarang juga malah teman perempuan saya yang mengendarai motor dan saya yang menjadi penumpangnya tapi hanya untuk jarang yang dekat seperti dari rumah ke warung mie ayam atau sekitarnya. Jelas, untuk jarang yang sebegitu dekat (untuk kendaraan bermotor) kami tidak pernah menggunakan helm atau topi atau apalah yang bisa mengamankan kepala kami. Akibatnya apa? Disini masalahnya mulai.

Tanpa helm, rambut teman perempuan yang memboncengi saya sering berterbangan menampar wajah saya. Rambut yang terawat, dan… wangi.

Saya sering perfikir untuk apa pria memiliki rambut sewangi perempuan jika di motor rambutnya tidak akan berkibar kemana-mana. Apalagi rambut saya yang keriting. Tapi saya merasa nyaman berada dibelakangnya dengan kibasan rambutnya yang wangi walaupun bukan berada di motor. Wanginya bisa tercium walau hanya berada didekatnya tanpa rambut yang berkibas. Hanya sekedar mengobrol asik didekatnya saja, saya langsung tahu bahwa wangi yang keluar adalah wangi parfum rambut. Saya bisa membedakan mana wangi parfum rambut, parfum baju, dan parfum badan karena mereka memiliki karakter wangi yang khas dan saling beda. Ditambah dengan satu kejadian dimana teman-teman perempuan saya mengeluarkan sebotol parum rambut Makarizo berwarna oranye dengan tutup biru yang merupakan karakter dari setiap wangi yang diproduksinya. Sesekali saya memengang dan mencobanya mencium wanginya serta menyemprotkannya di sekitaran rambut saya. Voila!!!

Dari sinilah saya memutuskan untuk mampir ke salah satu supermarket didekat rumah saya. Niat awal hanya untuk membeli satu deodorant dan sabun badan. Tapi, kebetulan saat itu adalah awal bulan dan saya masih dalam kondisi sebagai karyawan di salah satu kantor internasional di Jakarta, saya gunakan sedikit ‘uang yang bukan budget bulanan’ untuk membeli si Makarizo tadi dengan warna tutup botol yang sama. Dan hasilnya keterusan sampai sekarang. Saya suka menggunakannya untuk keperluan “biar rambut gue wangi”.

Dimana salahnya? Pertama, produk ini adalah produk yang dikhususkan untuk perempuan. Jadi masyarakat menilai lelaki tidak perlu membeli ini. Bahkan beberapa orang sering melihat risih ketika saya mengambil botol itu dari rak di minimarket. Saya kan hanya mengambil sebuah botol parfum rambut, bukan mengambil sebungkus besar pembalut. Bukan berarti produk ini dibuat untuk perempuan sehingga lelaki tabu untuk menggunakannya. Saya hanya melihat manfaat dari produk ini dan tidak memandang untuk siapa produk tersebut dijual, begitupun dengan produk lain. Tujuan saya hanya satu, wangi.

Bedakan dengan kisah lain dimana saya berkendara motor dengan teman laki-laki. Tidak ada wangi parfum apapun dari badannya dalam konteks beli mie ayam deket rumah. Kecuali dalam hal pergi ngapel, atau hadir dalam sebuah acara yang tersusun. Mereka berlomba-lomba menyemprotkan parfum yang mereka anggap hanya sekedar wangi ,tapi kebanyakan dari mereka salah menempatkan si parfum itu sendiri. Bayangkan saja, masa iya pergi ke pesta ulang tahun dengan tubuh yang dibalut parfum yang biasanya digunakan untuk sholat Jum’at?
Kembali dalam cerita, teman lelaki saya tidak menimbulkan wangi apapun dari rambutnya kecuali bau matahari, dan saya tidak suka. Lebih baik tidak berbau daripada mengeluarkan bau yang tidak enak. Disini letak perbedaan antara laki-laki dan perempuan saat bersama saya di motor.

Saya tidak ingin dibilang bau oleh teman-teman yang berada didekat saya dan; saya juga ingin memiliki bau yang khas dari setiap bagian tubuh saya.

Tentang parfum rambut untuk semua kalangan pria. Saya menyarankan untuk tidak malu menggunakan apa yang boleh anda gunakan. Jika memang benda itu membuat anda terlihat baik dan membuat orang nyaman berada didekat anda, kenapa tidak?


II.    Cap ‘Lekong’
Tidak jarang orang membebani dengan judging bahwa merawat diri identik dengan perempuan, dan lelaki yang merawat diri termasuk gay dalam kacamata mereka baik lelaki itu terlihat normal maupun kemayu. Saya sering mendengar kalimat-kalimat yang menurut saya tidak pantas diucapkan oleh teman-teman saya kepada orang yang tidak mereka kenal baik dalam kehidupan nyata maupun dunia maya (biasanya di Path). Contoh kejadiannya ketika salah satu teman perempuan saya melihat update-an Path lelaki yang merupakan teman kampusnya sedang share location yang menunjukan ia sedang berada di Johnny Andrean, salon umum yang dikenal mahal dalam konteks anak sekolahan. Tapi konteksnya akan berubah menjadi branded dalam konteks masyarakat.

“Potong rambut aje dimari, emang kaga ada tukang cukur apa? Kaya maho dah.”

Begitu kalimat pertama yang keluar dari mulut teman saya. Kenapa dengan laki-laki yang memilih potong rambut di mall? Salah? Bagaimana jika ia memikirkan kualitas, bukan sekedar update-an Path? Setau kami juga salary-nya lumayan jika hanya digunakan untuk sekedar potong rambut di Johnny Andrean saja. Bahkan saya juga tidak heran jika ia melakukan hal mahal lainnya seperti creambath, shaving, atau apalah itu.

Kejadian yang sama ketika saya bela-bela pergi ke sebuah mall hanya untuk mengejar 70% diskon untuk produk Minimal, sebuah store pakaian yang terkenal di beberapa mall. Pergi jauh-jauh hanya untuk membeli celana jeans dari harga lima ratus ribu menjadi seratus lima puluh ribu. Bagi masyarakat kebanyakan, biasanya pria membeli pakaian ketika dibutuhkan saja (lebaran misalnya). Sedangkan diskon hanya dikejar oleh wanita dan jika pria menginginkannya, ia hanya sekedar titip oleh teman wanitanya karena malas desak-desakan dengan pengunjung toko lainnya.

Bagaimana dengan yang saya lakukan? Saya akui, saya adalah masyarakat kelas menengah dengan gaji sekelas siswa baru lulus. Membeli celana branded dengan harga segitu murah merupakan rejeki yang tidak boleh saya tolak. Bagi kebanyakan orang memang aneh jika hal ini dilakukan oleh laki-laki, tapi bagi seluruh lelaki pecinta diskon, ini adalah hal wajar.

Intinya adalah, masyarakat tidak bisa melihat lelaki yang hafal brand ternama. Biasanya mereka hanya melihat laki-laki menggunakan pakaian seadanya. Sekalinya ber-merk biasanya hanya sepatu, Nike, Adidas, dan lainnya. Masyarakat juga melihat lelaki yang melirik brand sama kedudukannya dengan laki-laki matrealistis. Sebab, jiwa konsumtif lelaki yang melihat brand membuat lelaki terkesan centil.

“Nanti kalah deh keperluan cewek lu sama lakinya sendiri.”

Quotes yang sering keluar dari beberapa orang tentang lelaki yang mendambakan merk. Artinya, mereka mengecap lelaki yang bersifat seperti ini cenderung lekong alias kemayu. Masyarakat telah diracuni dengan tayangan televisi yang memperlihatkan bahwa segala yang mewah adalah milik perempuan. Segala yang terawat adalah milik perempuan. Sementara lelaki hanya perlu kebutuhan ‘seadanya’. Jika lelaki memiliki yang ‘mewah dan terawat’, maka lelaki tersebut seperti perempuan.

Sebagai masyarakat, pintar-pintar lah melihat setiap karakter orang dengan up to date. Jangan mau terbawa tayangan, kabar, dan berita lain yang membuat kebodohan yang semakin bodoh dianggap pintar dan benar.

“Bangga lah punya temen laki yang bisa lihat merk. Kalo ngadoin gak nanggung-nanggung abisnya.”


III.          Stres itu Asik Obatnya
Bagi kebanyakan pria, melampiaskan emosi dengan membanting barang-barang disekitarnya cukup membantu menyembuhkan penyakitnya. Tapi hasilnya? Merugikan orang banyak bahkan kita sendiri. Kalau yang dibanting hanya benda murah sih gapapa. Kalau handphone, latop, dan benda-benda bernilai lainnya kan justru malah membuat kita kepikiran dan kembali menimbun masalah lagi. Belum lagi yang dilempar bukan barang kita melainkan barang orang lain, bahkan barang kantor yang harus diganti segera (pahit-pahitnya potong gaji). Intinya, cara melampiaskan emosi seperti itu sangat, sangat, sangat, sangat, sangaaatttt merugikan. Dan, malah sebagian besar lelaki melakukannya.

Ada satu cara menghilangkan stres dimana jika wanita melakukannya, maka resikonya akan sama dengan contoh diatas, yaitu menimbulkan masalah baru lagi. Apa caranya? MAKAN. Padahal, makan adalah cara yang tepat untuk wanita menghilangkan stres. Tapi dengan makan, wanita akan meresahkan masalah berat badannya. Itu masalah baru yang akan ditimbulkan.

Saya senang dan bangga memiliki kebiasaan menghilangkan stres ala wanita namun tidak beresiko sepertinya. Biasanya saat stres, saya akan jalan berkeliling di suatu daerah yang memiliki banyak warung makan (Rawabelong misalnya) untuk sekedar mencari  cemilan yang bisa awet saya kunyah dan perlahan-lahan meredakan pikiran kacau saya. Banyak artikel yang mengatakan bahwa dengan berjalan kaki, fikiran kusut kita akan meregang dan relax kembali. Ditambah makan makanan yang kita suka. Maka dari itu, berjalan kaki sambil melihat kedai-kedai makanan serta mencicipi makanan yang kita mau membantu saya meredakan stress yang melanda tanpa memikirkan “berapa berat badan gue abis makan ini?”

Daripada harus membanting barang yang tidak memiliki salah akan kita dan merugikan orang banyak, lebih baik memanjakan diri sendiri sebagai obat untuk menghilangkan si stres yang berputar di kepala.  

Sekali lagi saya tegaskan bahwa jalan kaki dan makan adalah obat stress yang asik yang dapat dilakukan pria tanpa merasakan resiko apapun (kecuali sedang dalam program diet).


IV.             It’s Grooming Time!
Kebanyakan dari pria merawat tubuhnya hanya dengan mandi, dan syukur-syukur jika mereka teliti, cuci muka setiap malam sudah mereka anggap bersih. Tapi, dengan perawatan mingguan bahkan bulanan itu perlu bahkan untuk pria sekalipun. Kenapa tidak? Kuman dan kotoran kan tidak pernah tidak ada dalam tubuh kita.

Yang akan saya bicarakan adalah tentang masker, shaving, dan lain sebagainya. Yang penting bisa membuat tubuh kita segar dan bersih.

Kebanyakan dari pria hanya mengandalkan face wash saja untuk digunakan setiap hari. Tapi bagaimana dengan pria yang memerlukan perawatan lebih terlebih untuk yang kulitnya sedang dalam masa anytime puberty (jerawat dimana-mana). Mereka lebih suka percaya kepada iklan perawatan wajah yang menawarkan berbagai macam kekuatannya. Akibatnya, banyak produk yang mereka coba namun tidak cocok untuk kulitnya. Dan timbul kembali anak hingga cucu si jerawat tadi. Padahal, perawatan natural lebih aman dan mudah untuk didapatkan, walaupun agak ribet untuk dibuat. Misalnya dengan putih telur, alpukat, jeruk nipis, dan bahan-bahan alami lainnya yang merupakan produk anti pengawet serta aman digunakan. Orang cenderung memilih ke-PRAKTIS-an daripada ke-AMAN-an.

Coba saja sekali-kali masker wajah anda dengan putih telur yang sudah dikocok hingga berbuih. Lihat saja sendiri hasilnya. Ya, walaupun tidak instan wajah anda akan kelihatan kinclong. Tapi, I swear it profitable.

Selanjutnya, memilih jenis sabun. Baik sabun mandi ataupun sabun muka. Kembali lagi pada sifat praktis seluruh pria, mereka cenderung lebih suka mempercayai iklan di televise yang menawarkan berbagai macam kekuatan produknya. Padahal, hanya dengan mampir ke minimarket dan membaca sebentar khasiat masing-masing produk pada label belakang, kita dapat mengerti. Awalnya saya memang agak ragu mengocek harga yang lumayan lebih tinggi daripada produk yang saya beli sebelumnya. Tapi, perlahan saya coba memastikan diri saya bahwa produk baru yang akan saya beli insyallah akan lebih lugas hasilnya.

Jangan, sungkan-sungkan bertanya kepada teman perempuan soal produk yang mereka gunakan untuk kebersihan dimana perusahaan tidak mengeluarkan produknya untuk lelaki. Misalnya lulur.

Kenapa harus malu untuk luluran. Hanya dengan anggapan bahwa lulur digunakan untuk perempuan? Sekali lagi saya tegaskan, kebersihan diri akan berpengaruh pada kebersihan jiwa. Dengan luluran, badan akan terasa segar. Biasanya khasiat ini diikuti dengan kondisi fikiran yang akan terbawa fresh.

So What?
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pria yang memiliki kecintaan berlebih terhadap dirinya malah dipandang sebagai pria dengan kelainan yang berbeda dari pria pada umumnya. Masyarakat cenderung memuji pada awalnya namun dilengkapi kata ‘tapi’ pada akhir opini yang mereka sampaikan.
Sebenarnya tergantung dari pria itu sendiri, bagaimana cara dia menangani pandangan orang yang bertindak seperti ini. Istilah tidak kenal maka tak sayang sebenarnya cukup berlaku, karena ketika mereka hanya melihat kita sebagai penglihatan sekejap, maka berbagai macam cibiran akan datang. Bedakan dengan teman/sahabat/saudara yang memang sudah tau siapa kita.

Share:
Diberdayakan oleh Blogger.