Sabtu, 16 Desember 2017

Naskah Monolog: Kandidat (-7)


Seseorang berseragam SMA duduk bersandar pada tiang ring basket. Dimainkannya bola basket yang dipegangnya sambil menatap awan diatasnya. Yang ia duduki adalah lapangan basket dengan garis lapangan tegas terang dan di depannya terdapat ring basket kedua namun lebih jelek (berkarat, cat nya luntur, jaringnya robek).
BUNYI BEL SEKOLAH
Ah masuk! (Berbicara kepada penonton) Teman-teman, ayo masuk! Sudah bel!
Ia hendak pergi meninggalkan lapangan. Namun ketia sampai didepan tiang basket yang jelek, langkahnya terhenti.
Ah ini lagi! (Memperhatikan tiang itu dengan seksama. Dilihatnya dari bawah sampai atas. Dielus-elus tak sekali dicium bau besi berkarat yang sering kena hujan itu). Dasar, pejabat tidak bertanggung jawab! Sudah tahu ada yang rusak, tapi masih saja didiamkan seperti ini. Lama-lama karat menggerogoti besi ini terus rontok dan jatuh menimpa kepala mereka, awas saja. Saya orang yang tertawa paling keras! Hahaha!!!
Memang kelakuan manusia sekarang seperti itu. Mereka tidak pernah sadar kalau ada hal yang rusak. Mereka tidak pernah sadar kalau ada yang luka. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana melewati hari agar terus tetap duduk di posisinya saat ini. Lihat kan tiang basket ini? Jelek sekali keliatannya. Tapi bapak dan ibu bagian sarpras itu enggan untuk memperindah tiang ini lagi. Yang mereka pikirkan hanyalah datang ke sekolah-duduk di belakang meja-pulang-sambil menghitung hari dan menyambut tanggal gajian. Apa? Eh saya bukannya durhaka sama guru. Tapi ini pengalaman yang saya alami setiap saya mau minta izin buat minjem barang untuk keperluan acara OSIS. Birokrasi selalu dijadikan alas an, padahal saya Cuma mau minjem mikrofon satu biji! Bilang aja kalo males ngambil di gudang. Ya kan saya bisa ambil sendiri, gak usah nunggu mereka.
Lihat saja, masa kepengurusan OSIS selanjutnya, saya akan lebih berani untuk memaksa mereka agar melayani kami lebih baik sebagai babu sekolah. Memang mereka ini tidak sadar apa kalau kami ini yang selalu sibuk membuat acara agar nama sekolahnya juga yang bagus. Berkat kami juga, akreditasi sekolah sekarang jadi A. OSIS juga berperan penting sebagai penghubung antara birokrat dengan siswa. Ah! Susah, dasar penyakit. Tapi teman-teman tahu kan, ini yang menjadi penyakit sekolah kita sekarang. Masa Pembina OSIS enggan mengizinkan anak-anaknya membuat acara di sekolah. Alasannya simple, mereka hanya tidak mau datang saat hari libur. Katanya mereka juga punya keluarga, mereka punya anak. Heh! Bu, pak, kalo begitu mending gak usah jadi Pembina kami! 30% gaji tambahan sebagai Pembina OSIS yang diberikan Negara untuk apa?
Tapi… Buat apa saya marah-marah disini. Buat apa juga saya masih memikirkan kepengurusan OSIS selanjutnya. Wong saya ini bukan ketua OSIS nya kok. Saya Cuma kandidat yang lebih sedikit suaranya. Heh! Bukan! Bukan kalah! Enak saja! Saya tidak kalah! Saya tidak gagal!
Memang kalian lihat hasil perhitungan suara kemarin? Lihat tidak? Hahahaha… saya hanya kurang 7 suara dari kandidat yang satu. Yah memang, untuk kalian-kalian yang tidak tahu apa-apa, pasti kalian langsung mengira kalau saya ini kalah pemilihan. Untuk kalian-kalian yang tidak peduli apa-apa, pasti kalian langsung mengira kalau saya gagal dalam pemilihan kali ini. Tapi sebenarnya, saya menang!
Hahaha.. saya tahu pasti kalian mengira kalau saya ini sombong, kalau saya ini angkuh, kalau saya ini besar kepala. Nah, biar kita sama-sama enak, mungkin saya ceritakan dulu kenapa saya menganggap kalau diri saya adalah pemenang dalam pemilihan kemarin. Tapi, perlu teman-teman ketahui, kalau pemenang dan kandidat terpilih adalah sebuah perbedaan.
Awalnya, saya tidak mengira kalau Jafar, ketua OSIS yang baru terpilih kemarin hendak mencalonkan diri. Jangankan saya, semua teman-teman seperjuangan saya di OSIS pun tidak pernah terbesit sekalipun pikiran kalau nanti ia yang akan menjadi kepala kami. Padahal si Jafar ini adalah orang yang senangnya berpindah-pindah organisasi. Maka tidak jarang ia selalu absen setiap OSIS mengadakan rapat atau acara. Bagaimana tidak? Setiap ditanya kemana, pasti dia jawab…
“Saya ada rapat di Teater; saya ada kunjungan untuk Pecinta Alam; saya ada kajian di rohis”.
Nah, teman-teman pasti akan bertanya-tanya tentang loyalitasya. Dimana sebenarnya loyalitasnya untuk organisasi yang nanti akan ia kepalai ini. Beda dengan saya, saya hanya ikut dua organisasi yaitu teater dan OSIS. Teman-teman mengenal saya sebagai actor yang baik di teater dan pengurus yang taat di OSIS. Nah, dari situ saya merasa bahwa saya selalu punya ikon dari dua organisasi yang saya jalani itu. Tidak dengan Jafar, pasti kalian bingung dan enggan memikirkan siapa Jafar untuk perannya baik di sekolah maupun di organisasi yang banyak ia jalani itu. Mungkin orang-orang akan menganggapnya bagus dan kagum dengan pembagian waktu Jafar menjalani organisasi yang banyak itu. Tapi tidak dengan saya dan orang-orang yang paham betul arti loyalitas.
Hmmm sampai mana tadi… Oh iya, pencalonan itu. Ketika saya tahu kalau Jafar adalah salah satu kandidat, tidak ada rasa resah sedikitpun dari saya. Tidak ada pikiran di benak saya bahwa nantinya ia akan mengalahkan saya di pemilihan. Tapi hari demi hari menjelang masa kampanye, teman-teman di OSIS yang dekat dengan saya bercerita tentang apa-apa yang dilakukan Jafar. Kata mereka, Jafar mengirim pesan kepada teman-teman satu angkatannya yang sebelumnya tidak pernah ia kenal untuk meminta restu agar bisa naik menjadi ketua OSIS. Tapi saya bukanlah orang yang sembarangan seudzon dan gampang percaya. Saya Tanya kepada beberapa teman saya yang bukan pengurus OSIS, dan apa kata mereka? Mereka pun juga bingung, kenapa seorang Jafar yang kesehariannya adalah pribadi yang tertutup dan kuper mau mengirim pesan ke seluruh teman satu angkatan untuk mendukungnya menjadi ketua OSIS?
Tidak hanya itu teman-teman sekalian, asal kalian tahu. Semenjak awal menjabat sebagai pengurus OSIS, partisipasinya sangat sedikit. Ia hanya menjalani dua proker setelah itu ia hilang pergi ke organisasinya yang lain. Padahal saat itu OSIS sedang dilanda masalah. OSIS sedang genting keadaannya. Angkatan saya sebagai junior saat itu menuntut kinerja senior kami yang sangat minim. Kami menangis bersama meminta, meraung, memohon kepada senior kami untuk tidak hanya mengawasi tapi juga membimbing. Kami merasa ini adalah budaya yang jelek di OSIS. Senior yang kerjanya hanya mengeval kinerja kami, tapi mereka tidak ikut meringankan beban yang kami kerjakan setiap proker. Dimana Jafar saat itu? Tidak ada!
Lalu kapan ia kembali ke OSIS? Kapan? Ya, saat masa orientasi. Masa dimana masuknya siswa-siswi baru ke sekolah kami. Masa dimana masuknya gelas-gelas kosong yang belum mengerti apa-apa tentang kehidupan di sekolah kami. Saat itu, Jafar kembali. Dan tidak tanggung-tanggung, ia mengambil kendali menjadi pembawa acara pada masa itu. Ia mengambil kendali sebagai orang yang paling pertama dipandang oleh anak-anak baru. Sebagai seorang ‘kakak baik’;’kakak tampan’ bagi anak baru. Beda dengan saya, sebagai ketua pelaksana masa orientasi itu, saya memiliki goals. Saya tidak ingin anak-anak itu menjadi pribadi yang manja, menjadi pribadi yang lenjeh, menjadi pribadi yang ingin manisnya saja. Maka dari itu, saya dituntut tegas untuk mendidik mereka. Dan ini, pasti tegas yang saya maksud adalah ‘galak’ yang kalian lihat, iya kan?
Padahal saya hanya ingin membangun karakter siswa yang kuat. Bukan yang menye-menye. Tapi anak-anak baru itu malah menganggap bahwa saya adalah kakak yang galak. Buktinya saya mendengar sebuah percakapan antara teman saya dan salah satu anak baru yang bergabung dalam teater di sekolah saya. Katanya seperti ini.
“Kelas saya mah sepakat pilih kak Jafar semua. Dia ramah, baik, gak galak kaya kak Adli.”
Dari situ, dari situ saya mulai resah kalau-kalau Jafar yang akan menang pemilihan nanti. Saya takut, saya sedih, saya kalut… Ya ampun tuhan! OSIS, organisasi yang melahirkan pribadi baik saya, organisasi yang melambungkan nama saya, organisasi yang menjadi tempat berjuang saya akan dipimpin oleh orang yang tidak memiliki raga di OSIS nantinya. Akan dikepalai oleh orang yang tidak tahu ada luka di sini, orang yang tidak paham ada retakan di sini, orang yang tidak peka ada penyakit disini. Bahkan orang yang tidak kenal teman-teman pengurus lainnya. Sara, Jesi, Angga, Niko, Nisa, dan teman-teman pengurus yang lain adalah keluarga saya, adalah sahabat saya, adalah organ tubuh saya. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa hadir dalam hari-hari buruk saya. Mereka adalah pahlawan bagi saya, mereka segalanya.
Tuhan! Mereka akan dikepalai oleh orang yang tidak mereka kenal. Mereka akan dikepalai orang orang yang tidak mengenal mereka. Mereka akan dikepalai oleh orang yang tidak kenal rumahnya. Mereka akan dikepalai oleh orang yang tidak pernah berjuang bersama mereka. Kami menyayangi OSIS sebagaimana rumah kami. Banyak cerita yang kami ukir disana. Banyak kisah yang kami pahat disana. Banyak harapan yang kami doakan disana. Tapi tidak dengan ini. Ahhhh, saya benci politik!
“Adli, niat kamu sangat baik untuk menyembuhkan luka yang ada pada rumah kamu saat ini. Niat kamu sangat mulia untuk menghilangkan retakan yang ada sekarang. Dan kebanggaan besar bagi kami ketika kamu memberanikan diri untuk menyalokan diri kamu sebagai pemimpin kami nanti. Harapan besar kami ada pada kamu. Kami percaya kamu bisa memperbaiki kesalahan yang ada pada OSIS saat ini. Kami percaya kamu adalah orang yang tepat untuk membawa perubahan. Tapi satu yang harus kamu ingat, sekarang ini kamu sedang dalam masa pesta demokrasi. Sekarang ini kamu sedang dalam masa dimana seluruh warga sekolah akan mudah dihipnotis dengan janji-janji kampanye dan seluruh atribut untuk mencuri hati mereka. Teman, senior, dan adik kelas yang kita didik kemarin akan kosong pikirannya. Dan kamu harus berbuat yang sama seperti kandidat lainnya, seperti Jafar. Kamu harus bisa mengambil perhatian mereka. Kamu harus menyebarkan janji-janji kampanye seperti calon-calon presiden kemarin. Buat program kamu semuluk-muluknya agar warga sekolah bisa tertipu daya dengan kampanye yang kamu lakukan. Ini demi kami, demi OSIS. Yang menentukan kamu menang atau tidak adalah suara dari mereka, bukan dari kami sebagai sahabatmu.“
Tidak! Tidak! Ah… Saya butuh kejujuran. Saya butuh keadilan. Saya hanya ingin terpilih sebagai ketua dengan berbekal kepercayaan dari warga sekolah, bukan karena janji kampanye. Saya percaya, apa yang saya lakukan selama satu tahun di sekolah ini akan mampu membuat mereka percaya kalau saya bisa memimpin OSIS. Saya yang menghapus larangan junior tidak boleh lewat di tengah lapangan, saya yang mengepalai mereka untuk berani duduk di kantin tanpa harus takut dengan senior, saya yang menjadikan OSIS sebagai organisasi penyalur bakat mereka, saya yang membuat OSIS sebagai organisasi yang terbuka akan kritik dan saran bagi mereka. Saya yang… saya yang… akhhhhh!!!!
Saya tidak ingin menjadi ketua yang terpilih karena janji kampanye seperti para pemimpin Negara saat ini. Saya hanya ingin menjadi pemimpin yang dipilih karena ketulusan, karena kenal siapa saya, karena tahu apa yang akan saya lakukan. Saya tidak melakukan kampanye. Saya tidak menyebarkan pamphlet yang berisikan ajakan untuk memilih saya. Saya tidak mengirim pesan kepada kalian, kepada teman-teman saya. Saya tidak berpura-pura baik di depan anak baru. Saya percaya, tanpa saya harus menyuarakan rencana muluk seorang kandidat, saya akan menang menjadi ketua OSIS yang dipilih karena kepercayaan warga sekolah akan saya. Saya percaya. Iya, saya percaya!
Tetapi… Saat itu, sore hari di aula ketika waktu penghitungan suara. Saya duduk disamping salah satu teman saya. Mereka bercanda meledek saya karena saat itu jumlah suara yang saya dapat lebih unggul dari Jafar. Perhitungan terus berjalan, suara saya bertambah terus. Peluh saya mulai bermunculan menerka-nerka apa suara saya terus berjalan atau malah Jafar akan menyusul di depan. Di samping itu, saya juga berpikir tentang cabinet yang nantinya akan saya bentuk ketika menang pemilihan nanti. Rasa senang dan gelisah menjadi satu disitu. Akhirnya saya putuskan untuk pergi dari aula menuju ruang OSIS. Saya berniat untuk duduk dan menenangkan diri sambil menunggu hasilnya. Saya ingin tenang. Saya ingin rileks. Tapi suara penghitungan suara lewat speaker di aula masih saja terdengar dari sini. Walau samar-samar, tapi saya masih bisa mendengar nama siapa saja yang terus disebut.
Hingga akhirnya, speaker berbunyi.
“Lembar terakhir, no.urut 2….”
Lalu hening. Lalu diam. Lalu senyap. Apa speaker itu mati? Apa speaker itu rusak? Masih hening. Masih diam. Masih senyap. Apa suara sedang dihitung jumlahnya? Apa sebanyak itukan perolehan yang didapat? Apa setipis itukah perbandingannya. Terus hening, terus diam, terus senyap. Kemudian bunyi kresek-kresek speaker bunyi lagi…
“Ya…”
“Dan… setelah perhitungan, maka Ketua OSIS Periode 2018 akan dipimpin oleh Jafar!”
Hahahahaha…. Saya gagal! Saya pecundang! Saya kalah! Hahaha… Tidak lama setelah itu, mereka datang. Mereka yang menemani perjalanan saya di organisasi ini merangkul saya erat. Memeluk saya dengan hangatnya. Ditambah basah airmata yang membuat saya ikut meneteskannya. Kemudian saya Tanya, “berapa suara yang saya dapat?” Enam puluh tiga kata mereka. Sementara Jafar mendapat 70 suara. Lalu saya lepaskan pelukan mereka dan menatap mereka penuh keyakinan. Mata mereka masih sembab karena tangisan. Wajah mereka masih merah. Dengan yakin saya katakana kepada mereka…
“63 suara yang saya dapat adalah hasil dari kerja keras yang saya lakukan semenjak saya menginjakan kaki di sekolah ini. Saya tidak kampanye, saya tidak obral janji, saya bertindak selayakanya tidak ada pemilihan. 63 suara yang saya dapat berasal dari orang-orang yang mengenal betul siapa saya, orang-orang yang tahu apa tujuan saya, orang-orang yang percaya dengan saya. 63 suara yang saya dapat adalah mereka yang tidak mudah percaya dengan janji politik. 63 suara yang saya dapat adalah orang yang jatuh hati dengan kinerja saya. 63 suara yang saya dapat berasal dari orang-orang yang percaya bahwa saya bukanlah kakak galak. 63 suara yang saya dapat adalah orang-orang yang senantiasa bersama saya.”
“70 suara yang didapat oleh Jafar adalah hasil jual diri, adalah hasil obral janji, adalah hasil memakai topeng, adalah hasil haus akan posisi, adalah hasil akan nafsu memimpin.”
Dia memimpin, tapi tidak menang dalam pemilihan. Karena juara sesungguhnya adalah ia yang bertahan sebagaimana dirinya sendiri.
Lihat kan teman-teman, sudah hampir satu jam kita disini. Sedangkan bel masuk sudah berbunyi dari tadi. Lihat kan betapa tidak pedulinya guru-guru kita terhadap muridnya yang masih keluyuran di jam pelajaran. Bukannya ditegur, malah cuek saja. Saya yakin, pasti mereka masih enak-enakan melihat-lihat catalog Oriflame di ruang guru. Atau masih sibuk merencanakan jalan-jalan ke luar kota dengan motif rapat kerja. Haduh….
Sudah teman-teman, ayo kita masuk kelas. Eh, itu yang dasinya jelek tidak usah dipakai. Nanti kalian malah dipaksa untuk beli dasi baru di koperasi.
Seseorang itu kemudian meninggalkan lapangan dengan berlari perlahan. Lampu perlahan-lahan fade out namun masih mennjukan sisi terang di tiang basket yang jelek tadi.
Tamat

Share:

Sabtu, 01 Juli 2017

Tertawa Bersama Prodo


“uang adalah alat pembeli gelar yang paling ampuh dan dahsyat.”
-Prodo Imitatio-

            Lampu masih gelap saat itu, namun iringan gitar sudah mulai mengalun dengan asyiknya. Saya masih menggenggam erat gagang koper di wing panggung aula Sertifikasi Guru lantai 9. Ini adalah hari dimana lomba monolog Festival Seni UNJ dilaksanakan. Beberapa peserta lomba sudah menampilkan penampilan terbaiknya sedari pukul sepuluh pagi tadi. Kini giliran saya yang harus tampil dengan nomor urut tujuh setelah sebelumnya terpotong dengan waktu makan siang. Pada kesempatan kali ini, saya akan membawakan sebuah naskah monolog mahakarya dari kang Arthur S. Nalan yang berjudul Prodo Imitatio. Kenapa harus Prodo Imitatio? Begini.
           
Jauh sebelum lomba ini, kira-kira pertengahan April lalu saya dibebankan dengan tetek bengek ujian dari seleksi Duta Bahasa DKI Jakarta. Termasuk sebuah penampilan bakat yang diagendakan di hari terakhir penilaian. Seperti yang sudah-sudah dan tanpa pikir panjang, saya berniat menampilkan monolog. Maka dari itu, saya mencoba konsltasi dan meminta bantuan seorang senior dari Bengkel Sastra, kak Oji untuk memilihkan satu naskah yang menurutnya pas dibawakan oleh saya ketika hari penampilan nanti. Dengan cepat beliau menawarkan Prodo Imitatio sebagai naskahnya. Saat itu juga saya coba browse di internet dan mulai membacanya esok hari ketika perjalanan ke kampus di kursi belakang sebelah kiri Transjakarta. Prodo Imitatio, naskah yang awalnya saya kira membosankan. Sempat saya remehkan naskah ini karena saya sama sekali tidak merasakan kesan wow ketika membacanya.
            Tapi, seperti yang kita tahu bahwa rasa sayang akan muncul lama kelamaan. Setelah kak Oji bilang bahwa naskah ini membawanya memenangkan Juara 2 Festival Seni UNJ dua tahun lalu dan calon sutradara saya, kak Mussab yang pernah membawakan naskah ini dua kali disaat penampilan untuk ospek dan membawanya pula memenangnkan Juara 3 Festival Seni UNJ di tahun yang sama dengan kak Oji. Saya kira, kak Oji yang akan menyutradarai saya untuk monolog ini. Tapi karena ia sudah sibuk menyutradarai senior saya yang juga sedang mengikuti lomba monolog di UIN, maka saya disarankan untuk meminta bantuan kepada kak Mussab yang sama sekali belum memegang siapapun (saat itu beberapa anggota Bengkel Sastra sedang mengikuti lomba monolog dan membaca puisi di UIN). Jadilah official director of Prodo Imitatio untuk Bima Dewanto di penampilan minat dan bakat Duta Bahasa DKI Jakarta adalah Mussab Askarulloh.
            Tetapi, dalam beberapa waktu naskah ini masih dalam pertimbangan saya. Pasalnya, broadcast tentang Festival Seni UNJ (FSUNJ) baru saja masuk ke ponsel saya dan tidak lama ramai di bicarakan di setiap latihan di Bengkel Sastra. Mata lomba dari FSUNJ antara lain: cipta poster, cipta puisi, cipta esai, cipta cerpen, komik strip, baca puisi, monolog, menyanyi, dan masih banyak lagi. Dengan cepat pasti pilihan saya jatuhkan kepada cipta poster tanpa peduli ada lomba lain didalamnya. Namun, saya sempat merasa senang melihat beberapa anggota Bengkel Sastra yang setiap selesai latihan rutin mereka tambahkan dengan latihan monolog untuk lomba di UIN. Akhirnya saya putuskan untuk mengikuti lomba monolog juga. Di sinilah letak pertimbangan naskahnya yang memakan waktu cukup lama untuk diputuskan. Masalahnya, saya belum tahu naskah apa saja yang dilombakan di FSUNJ. Karena saya tidak mau latihan dua kali dengan naskah yang berbeda antara di seleksi Duta Bahasa dengan FSUNJ. Saya berharap, FSUNJ menyertakan Prodo Imitatio sebagai salah satu naskah yang dibawakan ketika hari nya berlangsung.
            Kebetulan saya tidak begitu peduli dengan seleksi Duta Bahasa. Yang menjadi prioritas saya saat ini sebenarnya lebih condong kepada Festival Seni UNJ ini dimana pemenangnya akan dikirmkan menuju Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) sebagai perwakilan dari UNJ. Maka dari itu, naskah yang akan saya bawakan untuk penampilan di Duta Bahasa tergantung dari naskah yang disediakan di FSUNJ nanti.
            Singkat cerita, saya mulai mendaftarkan nama saya untuk lomba desain poster dan monolog di meja pendaftaran FSUNJ bersama Trisda, kawan yang saya paksa untuk ikut lomba monolog juga. Saat itu juga saya tanyakan tentang naskah apa saja yang harus dibawakan untuk lomba dan voila! Prodo Imitatio ada di dalam tabel daftar naskah monolog di urutan ke lima tepat di bawah naskah Aeng karya Putu Wijaya. Prodo Imitatio karya Arthur S. Nalan, naskah yang akan saya bawakan baik di seleksi Duta Bahasa dan di lomba monolog Festival Seni Universitas Negeri Jakarta.
            Lomba akan dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2017, sementara penampilan bakat Duta Bahasa akan dilaksankan pada tanggal 4 Mei 2017. Tugas pertama saya adalah untuk memfokuskan terlebih dahulu untuk penampilan di Duta Bahasa. Setidakpedulinya saya terhadap seleksi ini, saya tetap harus menampilkan yang terbaik untuk menunjukan bahwa teater tidak sembarangan di mata para finalis Duta Bahasa yang mayoritas bukan dari jurusan sastra. Saya juga menjadikan penampilan ini sebagai uji coba dan evaluasinya akan digunakan untuk memperbaiki penampilan saat lomba di FSUNJ nanti.
            Latihan hari pertama, saya bertemu dengan sutradara ditemani dua teman saya, Dini dan Trisda yang seharusnya Trisda juga latihan monolog hari ini namun sutradaranya memilih untuk absen. Trisda akan membawakan naskah Anak Kabut karya Putu Wijaya nantinya. Latihan hari ini masih tentang reading dan membahas naskah. Kak Mussab sebagai sutradara mengarahkan dengan amat sangat baik bagi saya untuk dengan mudah mengerti naskah ini. Ia juga mengarahkan dimana penekanan seharusnya diadakan di setiap dialog yang memerlukan.
“…segala sesuatu yang menyangkut pemberian gelar diselesaikan dengan sejumlah uang segala sesuatu yang menyangkut pemberian gelar diselesaikan dengan sejumlah uang…”
            Pada dialog ini dan seterusnya, kata uang harus menjadi permasalahan utama dari naskah ini. Uang adalah alat yang sangat dipentingkan dalam setiap…. Sebentar, saya belum menceritakan tentang naskah ini secara garis besar. Begini.
            Prodo Imitatio adalah seorang professor doktor yang lulus bukan karena kemampuan dan keahliannya melainkan karena uang. Prodo Imitatio juga merupakan rector dari University of Zuzulapan yang berpusat di Amarakua. Terdapat dua babak dalam naskah ini. Pertama disaat Prodo menawarkan sebuah produk kepada semua penonton yang ia anggap sebagai mangsa pasar nya. Produk itu adalah gelar. Prodo menawarkan kepada penonton gelar apa saja mulai dari gelas S1 hingga professor tanpa harus susah payah menjalankan kegiatan akademis melainkan dengan uang. Dalam naskah ini, Prodo juga membuat pengakuan bahwa sebagian besar orang yang telah lulus menjadi doktor merupakan hasil dari penjualan yang dilakukannya. Ia mengatakan bahwa semua orang yang menjadi tokoh besar merupakan output dari bisnis yang ia jalankan. Sebagian besar orang itu lulus bukan karena keahlian mereka melainkan karena permainan uang. Sama seperti masa dimana Prodo menjalankan sekolahnya. Ia hidup dengan uang orangtua yang meradang dan bertebaran di sekolah-sekolah demi membuat anaknya naik kelas walau ia malas dan sering absen.
         
   Pada babak kedua, Prodo mendekam di balik jeruji besi. Di dalam sel, ia tidak merasakan keterpurukan. Ia mengaku bahwa walaupun dirinya mendekam di sini, ia masih memiliki anak buah yang menjalankan bisnis jual gelar di luar sana. Ia menyesalkan kepada penonton akan sistem hukum di negeri yang ia tempati ini. Prodo merasa yakin bahwa yang seharusnya ditahan adalah pembelinya yang kini menjadi orang-orang besar, bukan penjulanya yang kini mendekam di penjara.
            Kembali ke topik pembahasan soal latihan hari pertama. Pada hari ini, latihan belum sampai pada tahap blocking. Saya masih harus belajar tentang penekanan pada naskah dan kalimat penting yang tidak saya lewatkan begitu saja.
            Besoknya, saya datang pagi ke kampus walaupun kuliah dimulai pukul satu siang. Tepat pukul Sembilan saya duduk perpustakaan dengan naskah yang berada di atas meja. Sama seperti halnya menghafal naskah ketika pementasan ‘TIK,’ lalu, kini saya menghafal naskah Prodo Imitatio di perpustakaan juga. Tempat ini sangat nyaman untuk menghafal, suasananya hening. Di sini saya juga membentuk penekanan pada setiap dialog yang saya hafal. Untuk hari ini, target saya hanya menghafal babak satu saja. Latihan selanjutnya adalah lusa dimana saya berencana untuk membawa properti yaitu koper. Dan pada latihan saat itu, sutradara masih tetap menahan saya dalam proses reading belum blocking.
            Pada latihan hari ini, semua teman-teman Bengkel Sastra yang mengikuti lomba monolog di FSUNJ juga latihan bersama sutradaranya masing-masing. Trisda yang membawakan naskah Anak Kabut bersama dengan Tiyas yang membawakan naskah Tolong karya N. Riantiarno. Keduanya dipegang oleh kak Despian. Adi yang membawakan naskah Aeng karya Putu Wijaya disutradarai oleh kak Juanda. Semua focus dengan latihannya masing-masing hari ini. Hari ini juga saya merasa reading pada naskah yang saya bawakan lebih baik dari hari sebelumnya. Namun, satu hal yang membuat saya kaget adalah kedatangan Ical Vrigar yang duduk disamping saya ketika saya membaca naskah bersama sang sutradara. Tanpa pembukaan apa-apa, ia mengatakan bahwa pembacaan saya belum terkesan di telinganya. Ia menyayangkan vocal saya yang bagus namun pembacaan saya yang menurutnya masih belum membuatnya mengerti. Dari sini, saya mulai menyadari kekurangan dan kelebihan yang saya punya. Pertama, naskah Prodo Imitatio adalah naskah komedi dimana setiap dialognya mengharuskan saya untuk bertingkah ceria. Tertawa disetiap dialog harus menjadi ciri khas dari Prodo sendiri. Sedangkan dalam reading hari ini saya merasa bahwa tertawa saya masih sangat sedikit dilakukan. Kedua, saya mulai mengetahui akan vocal saya yang baik dalam berdialog. Memang sangat amat disayangkan jika tidak saya pergunakan dengan baik. Saat itu juga saya berpikir dan langsung meminta kepada sutradara untuk menghentikan latihan hari ini dan berencana untuk mengkaji lagi naskahnya besok bahkan nanti ketika perjalanan pulang saya di Transjakarta.
            Hari sudah semakin dekat dengan penampilan minat dan bakat Duta Bahasa. Saya meutuskan untuk menampikan babak satu dari naskah ini karena waktu yang disediakan panitia tidak memadai, 3 menit. Itupun juga banyak dialog yang saya lewatkan. Semua properti sudah siap mulai dari koper, buku-buku tebal, jubah wisuda, hingga toga. Blocking juga sudah diatur sedemikian rupa untuk penampilan besok. Make up, serahkan kepada bu Rista, senior Bengkel Sastra yang dengan baik hati mau menolong saya dengan datang pagi-pagi ke kampus dan mulai mendandani saya menjadi Prodo Imitatio ala dirinya.
            Dan ini harinya, sedari pukul tujuh foundation dan bedak sudah menempel lekat di wajah saya. Mempersiapkan diri untuk penampilan maksimal yang seharusnya tidak perlu. Tapi dari sinilah ukuran keberhasilan saya membawakan Prodo Imitatio untuk FSUNJ nanti. Setelah naik ke atas panggung, perasaan nervous pasti ada. Namun saya sering menganggap panggung adalah teman saya. Jadi, berbaik hati ya, teman…
            Yang saya senang dari pertunjukan ini adalah tawa dari penonton. Memang tertawa bukanlah tolak ukur keberhasilan suatu pementasan, namun suara tawa yang saya dengan mampu membuat saya lebih semangat dalam membawakan dialog selanjutnya. Saya mengartikan tawa adalah respon dari penonton dan tanda bahwa mereka masih konsisten menatap saya di atas panggung.  
“Salam Imitatio! Viva Profesores Prodo!”
___
Fokus menuju Festival Seni UNJ. Semua peserta latihan setiap malam setelah latihan rutin Bengkel Sastra. Blocking yang saya lakukan sudah full dari awal hingga akhir. Hanya tinggal mengembangkannya setiap latihan.
“Viva Profesores Prodo!”
Kata ‘viva’ yang saya teriakan merupakan satu dari dialog paling favorit yang saya suka. Selanjutnya adalah tertawa dan terus tertawa sepanjang pertunjukan. Yang saya kagumkan dari sutradara yang mampu membentuk karakter Prodo baik sesuai keinginannya dan kemampuan saya. Prodo ala Bima adalah Prodo yang memiliki kecakapan dalam marketing communication. Prodo yang sangat pintar merayu orang untuk membeli produknya hanya dengan mulut manis yang menjanjikan. Hingga jadilah saya disebut sebagai Bima The Salesman.
Pertama kali saya menemukan bahwa Prodo adalah sales marketing dengan komunikasi yang bagus, referensi saya langsung tertuju kepada salah satu perusahaan yang pernah meminta saya untuk mendesain kemasan produknya. Perusahaan yang sebagian besar adalah teman-teman sekolah saya. Perusahaan yang pernah mempersilakan saya menyaksikan bagaimana para sales nya latihan untuk mempresentasikan kepada mangsa pasar untuk membeli produknya. Voila! Tidak cukup dari situ, saya langsung mengingat kembali seseorang yang mampu bernegosiasi dengan baik. Yaitu salah satu teman saya ketika bekerja di salah satu hotel di bilangan Kebayoran Lama.
Hingga terbentuklah karakter salesman yang saya inginkan. Selanjutnya tinggal bagaimana memainkan beberapa monoplay yang tedapat dalam naskah ini. Sebenarnya ada dua monoplay yaitu sebagai ibu Prodo dan sebagai Sipir. Tapi saya menambahkan dua monoplay dan menghilangkan dialog sipir. Monoplay pertama adalah ketika Prodo menceritakan tentang sejarah pemberian gelar. Dalam naskah, Prodo menceritakan sejarah ketika masa kerajaan. Di sini saya berubah menjadi seorang dalang Jawa yang menceritakan sejarah itu. Kemudian di dalam naskah, Prodo menceritakan sejarah di masa penjajahan. Tidak lain saya bertransformasi lagi menjadi seorang Belanda yang seakan-akan menceritakannya. Kemudian pada adegan selanjutnya dimana ibu Prodo memanggilnya untuk berangkat ke sekolah.
Selanjutnya, adalah adegan ketika Prodo bernyanyi. Saya sengaja menghilangkan dialog ini karena saya rasa susah untuk membuat dialog ini terdengar menarik bagi saya. Bahkan saya merasa dialog saat Prodo bernyanyi akan terkesan garing karena liriknya yang diganti.
Masuk kepada babak dimana Prodo sudah berada di dalam sel. Yang menjadi favorit adalah ketika Prodo mengejar kecoa. That was so fun! Sutradara mengarahkan saya untuk mengejar kecoa itu, bukan hanya menangkapnya. Kemudian, adegan ketika Prodo membaca Koran. Sepanjang latihan sampai pertunjukan, saya tidak pernah menghafal dialog ini. Rencana saya adalah menempel lembaran ini di dalam Koran yang akan dibaca oleh Prodo nantinya. Dalam babak ini, kekonyolan Prodo menurun namun tetap pada standar si Prodo. Saya memainkannya lebih santai namun tetap harus ada gelak tawa.
“Yang harus ditangkap itu pembeli bukan penjual!”
___
            Dua hari sebelum lomba di mulai. Ini adalah hari terakhir untuk latihan. Bukan, bukan latihan. Ini running dimana semua peserta monolog dari Bengkel Sastra baik yang lomba di FSUNJ maupun di UIN harus menunjukan hasilnya didepan teman-teman, senior, dan sutrdara lainnya. Malam ini, semua akan dievaluasi untuk pertunjukan yang matang esok hari. Ada satu senior yang mengatakan bahwa saya bisa menjadi harapan untuk maju mewakili menuju Peksimida. Namun saya hanya mengiyakan, toh saya tidak mencari kemenangan lewat monolog ini melainkan kemenangan pada lomba desain poster yang sudah terlaksana sebelumnya. Maaf.
            Setelah menampilkan hasil dari latihan selama berminggu-minggu, beberapa kritik dan saran saya dapat malam itu juga. Pertama, saya masih kurang all out dalam menampilkannya. Lagi-lagi tertawa yang masih sedikit. Kemudian mengenai gerak yang masih ragu. Tetapi setelah itu untuk kesekian kalinya, vocal saya disanjung. Beberapa senior mengatakan saya memiliki bekal vocal yang baik. Maka dari itu, sayang bila saya tidak total dalam pertunjukan ini. Dan satu hal penting, tempo. Dirasa saya masih terlalu terburu-buru dalam membawakannya. Oke, let's do it better, baby!
            Malam ini juga, saya berlatih untuk cepat berganti kostum ketika black out dan mulai masuk ke babak selanjutnya.
___
            Hari perlombaan dimulai. Sedari pagi saya sudah menunggu di gedung Sertifikasi Guru bersama Trisda dan Tiyas. Dua teman yang setia dan kompak saat latian. Cukup membantu. Sangat membantu. Sangat. Mereka berdua yang menjadi teman saya ketika latihan pada malam hari. Mereka yang mengantar saya bolak-balik ruang BEM untuk mengambil koper. Pernah satu malam kami bertiga pulang larut karena saking asiknya menikmati latihan pada malam itu.
            Lanjut cerita, pagi ini juga segala bentuk riasan dan kostum sudah siap kami kenakan. Saya adalah peserta nomor urut tujuh. Namun sepertinya saya menjadi nomor urut lima karena dua orang peserta sebelumnya tidak atau belum datang. Sepanjang menunggu antrian, saya usahakan untuk menghilangkan gugup dengan terus berbicara baik sendirian maupun mencari korban yang akan menjadi pendengar saya.
Dan, selalu begini. Saya kedatangan teman-teman dimana satu diantaranya adalah tamu rutin. Aya, yang selalu ada disetiap acara yang saya ikuti. Ditemani Dania, Angel, Dini, dan Uly, mereka datang untuk menyaksikan lomba monolog secara keseluruhan. Tapi tetap saja, mata kuliah tidak boleh ditinggalkan. Dan, waktunya adalah sama dengan waktu dimana saya tampil. Setelah ishoma. Sayang sekali. Tapi, tetap saja kedatangan mereka membuat saya tambah semangat untuk menampilkan yang terbaik.
This time to show, dengan penataan musik dan lampu yang mendadak. Baru saja saya di briefing oleh sang sutradara tentang cara masuk panggung. Ia yang akan memegang kendali untuk iringan music. Saya harus masuk ketika dua kali irama gitar telah berbunyi. Namun ketika sudah sampai ditengah panggung, posisi tubuh saya harus statis sampai lampu nyala dan mulai memasang senyum paling menjijikan yang pernah orang lihat. Penyesalannya adalah, andaikan saya menjadikan Captain Jack Sparrow sebagai referensi untuk teknik pemunculan ini, maka senyum pembukaan saya akan lebih disgusting.
Selanjutnya, dialog yang paling saya suka. “Viva Profesores Prodo!”. Godamn! Pertunjukan terus berjalan hingga adegan dengan dialog, “Saudara-saudara, uang adalah alat pembeli gelar…”. Dengan bodohnya saya lupa harus berkata apalagi selanjutnya. Hampir gagap, hampir blank hingga saya skip menuju dialog terdekat yang saya tahu.
“Dan dewa penolong itu adalah…Saya!” Dibantu dengan iringan gitar dari sutradara yang tidak pernah direncanakan sebelumnya, I do enjoy this part.
Adegan demi adegan berjalan mulus sesuai dengan rencana. Saya semakin menikmati setiap dialog yang saya ucapkan. Eye catching yang tidak pernah lepas selalu saya tujukan ke setiap arah dengan tatapan pasti walaupun saya tidak melihat penonton karena kondisi ruangan yang gelap. Tapi, mata saya harus tetap tertuju kepada setiap penonton. Mereka adalah mangsa pasar saya.
Hingga tiba pada babak dua, di sel. Lagi-lagi saya harus salut dengan sutradara yang kini tengah asik dengan gitarnya. Adegan ketika saya merangkak mengejar kecoa. Setiap langkah saya pasti ada alunan gitar jahil yang mengiringinya. I really do enjoy this part (2), unplanned.
Babak dua pun berjalan mulus. Tempo yang malam sebelumnya dikira terlalu cepat kini sudah bisa dihilangkan karena diri saya yang semakin mampu menikmati setiap dialog. Sampai pada bagian akhir dimana Prodo naik pitam. Saya berdiri beranjak dari koper yang say tutup dengan jubah wisuda. Menggenggam Koran yang sebelumnya dilempar oleh sipir dan kembali menghadap sipir dengan meneriakkan, “Yang harus ditangkap itu pembeli bukan penjual!”
___
            Dari sepanjang proses yang saya jalani untuk menjadi seorang Prodo Imitatio, dapat ditarik benang merahnya bahwa Prodo adalah orang yang berbakat dalam bisnis. Prodo adalah orang yang sangat cerdik. Ia masih mampu menggerakan tali boneka para penjual gelar bawahannya walaupun ia ada di dalam penjara.
            Selesai lomba FSUNJ, pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Beberapa hari setelahnya, pengumuman berlangsung. Menantikan semoga salah satu diantara dua mata lomba yang saya ikuti mendapatkan satu saja juara. Bukan salah tuhan, do’a dan target utama saya adalah tentang desain poster.
            “Juara satu lomba desain poster jatuh kepada peserta dengan nomor urut…”
            Saya lupa nomor urutnya, tapi itu adalah nomor urut saya dan nama saya. Sementara untuk lomba monolog, selamat saya ucapkan kepada Tiyas. Rasa bangga dan bahagia tidak lepas dari kami. Kami: saya, Tiyas, dan Trisda yang sama-sama berharap satu diantara kami ada yang menyabet kemenangan akan lomba monolog disini.
            Prodo Imitatio, seorang Bima Dewanto tingkat kotor. Prodo Imitatio adalah saya kemarin. Sekali lagi untuk kebosanan yang tidak pernah datang saya mengucapkan terimakasih kepada karakter yang saya mainkan. Dan untuk kali ini, berarti saya berterimakasih kepada Prodo Imitatio alias Lay Apusi. Dasar kriminal!
“Mereka menjadi orang-orang penting di Manaboa ini!” –Prodo Imitatio
Share:

Selasa, 30 Mei 2017

Review Film Guzaarish: Eutanasia untuk Ethan Mascarenhas



” Break the rules. Forgive quickly. Kiss slowly. Love deeply. Laugh uncontrollably. And never regret anything that made you smile “ –Ethan Mascarenhas-
___
            Suara riuh tepuk tangan mengisi ruangan dengan panggung yang tidak b

egitu megah namun terlihat mewah dengan penampilan menakjubkan dari Ethan Mascarenhas (Hrithik Roshan), seorang pesulap nomor satu di dunia dengan aksi-aksi sulapnya yang membuat decak kagum tidak pernah absen dari suasana hati penonton. Pertunjukan sulap yang selalu menyuguhkan atraksi yang belum tentu semua orang dapat memprediksinya. Mulai dari menerbangkan api dari lilin, menyebar kertas tisu satu panggung penuh, hingga memotong-motong kepala sang asisten setia yang ia miliki.
            Tapi, keriuhan tepuk tangan itu terjadi 14 tahun lalu dimana Ethan masih dalam kondisi yang prima. Masih dengan Ethan yang flamboyan, tampan, gagah,  dan kharismatik. 14 tahun silam dengan tubuh Ethan yang masih bisa bergerak kemanapun ia mau. Dan 14 tahun sejak hari itu, kini Ethan terbaring tidak berdaya di ranjangnya. Tubuh-nya mati total. Lumpuh. Ethan kini bukan sang maestro sulap yang 14 tahun lalu penuh dengan tepuk tangan dari penonton. Yang bisa ia lakukan kini hanyalah bernafas. Hidup hanya dengan mata dan mulut yang masih bekerja. Segalanya dikerjakan dengan bantuan tangan lain yang tidak bukan adalah perawat setianya, Sofia (Aishwarya Rai).

            Sofia. Mungkin memang takdirnya menjadi perawat setia Ethan selama 12 tahun. Sofia. Semua pasien akan mendambakan perawat dengan perawakan flawless seperti dirinya. Karakter Sofia yang ulet dan tekun dalam merawat Ethan membuat dirinya semakin hari semakin menumbuhkan rasa loyal kepada semua orang di kediaman Ethan Mascarenhas. Bayangkan, 12 tahun ia menggunakan waktunya untuk pergi ke kediaman Ethan setiap fajar. Meninggalkan anak dan suaminya. Menggerakan tubuh Ethan yang kekar (membangunkannya dari ranjang, mengangkatnya ke standing bed, hingga mungkin memandikannya).
            Dalam hari yang tidak diduga itu, Ethan secara sembunyi-sembunyi dari Sofia mengambil jalan hokum untuk melakukan sebuah praktik pencabutan nyawa yang disebut ‘eutanasia’ kepada sahabat setianya yang merupakan pengacara, Devyani Dutta (Shernaz Patel). Keputusan Ethan kemudian diketahui oleh Sofia lewat surat kabar yang memuat berita mengenasi euthanasia tersebut.
            Hari-hari Ethan semakin manis dengan datangnya Omar Shidiqui (Aditya Roy Kapur) yang secara tidak diundang memasuki kehidupan Ethan untuk belajar sulap darinya. Tanpa kita ketahui, Omar adalah anak dari pesulap yang membuat Ethan lumpuh sampai sekarang dengan memerintahkan orang untuk mengguntik tali sling ketika Ethan beratraksi di panggung terakhirnya. Sementara hari-hari Sofia semakin kacau karena keputusan euthanasia dari Ethan yang semakin hari semakin berjalan dan masalahnya semakin besar karena keputusan hakim yang kontra sampai pemungutan suara yang dilakukan Ethan di saluran radio miliknya.
            Film ini berakhir dengan kembalinya Sofia yang semula diculik oleh suaminya dari kediaman Ethan. Setelah Sofia kembali saat keputusan hakim berakhir di ‘tidak setuju akan euthanasia oleh Ethan Mascarenhas’, Ethan secara langsung melamar Sofia sebagai istrinya karena Sofia juga mengabarkan bahwa ia telah selesai mengurus perceraian dengan suaminya.
            “Aku bisa mengabulkan permohonan euthanasia itu.” Kata Sofia.
___
            Bintang 5 untuk film Guzaarish. Walaupun film ini merupakan pure film Bollywood yang dimainkan oleh actor-aktor super seperti Hrithik Roshan dan Aishwarya Rai, tapi kita tidak akan menemukan hal-hal yang sering kita lihat di film Bollywood pada umumnya. Seperti, actor yang bernyanyi sambil menari di setiap jeda adegan, pemujaan terhadap dewa, hingga emosi actor yang meluap-luap karena tangisnya di akhir film.
Guzaarish menampilkan latar yang berbeda dari film-film India lainnya. Kediaman Ethan Mascarenhas merupakan rumah tua besar yang terkesan klasik seperti benteng-benteng Eropa pada umunya. Kostum Sofia yang setiap hari ia kenakan juga tidak melulu bahkan hamper tidak pernah menggunakan sari,layaknya wanita dalam film India biasanya. Sofia lebih sering menggunakan gaun hitam dengan kepang kuda yang terlihat seperti wanita-wanita Eropa pada zaman lampau. Klasik!
Bagian favorit saya pada film Guzaarish adalah ketika Ethan, Sofia, dan Omar pulang dari pengadilan dan mampir di sebuah bar dengan gaya meksiko. Saat Aishwarya Rai memperlihatkan bakat menari-nya. Wow! Aishwarya Rai!!! Saat adegan ini, kesan elegan dalam film Bollywod ala Guzaarish sangat terlihat. Musik dengan gaya meksiko sangat kental walaupun masih dengan lirik bahasa India. Tapi, kesannya sangat tidak bisa tertuliskan. Bravo!

Share:

Cerpen: Singasirana



Terbangunlah Ranum dari tidurnya melihat singa yang masih lelap disamping tubuhnya. Mengulet perlahan menikmati bau pasir dan bulu singa yang bergerak tertiup angin pagi perlahan. Ranum mengelus-elus punggung singa kesayangannya dan mencoba membangunkan singa itu dari tidurnya. Tak lama ketika singa bangun dari tidur, Ranum mengucapkan sapaan selamat pagi ramah kepadanya. Terlihat semakin dekat, singa itu kini merangkul Ranum dengan rangkulan hangat yang terlihat seperti kucing dan manusia, bukan singa.
Ranum beranjak dari tempat tidurnya dengan menggenggam selimut satin merah kumuh yang membalut mulai dari dada hingga atas tumit. Berjalan lurus menuju sumber air yang terletak tidak jauh dari tempat telentangnya kini. Sumber air yang merupakan sebuah kolam yang memuat sekitar enam orang. Kolam dengan air berwarna hitam pekat yang kini berisikan dua wanita didalamnya sedang mengobrol menikmati candaan pagi sambil membasahi tubuh mereka. Ranum menyapa dengan hangat sambil melepas selimut yang dikenakannya tanpa rasa malu mempertontokan badannya yang mulus langsing berwarna coklat keemasan. Rambutnya yang terurai kering, tetapi masih terlihat indah jika dilihat bersamaan dengan wajahnya yang cantik tajam.
"Bukan hari yang pantas untuk bekerja," kata salah satu wanita berambut hitam yang berada didalam kolam.
Ranum hanya tersenyum manis mengiyakan perkataannya.
Setelah semua selimut terlepas dari tubuhnya, dan diletakkan di salah satu dahan pohon disamping kolam, Ranum menyeburkan dirinya masuk ke dalam kolam hitam itu. Ditenggelamkan seluruh tubuhnya hingga kini tidak nampak sehelai rambut pun dari permukaan kolam. Setelah sekitar sepuluh menit berlalu, Ranum perlahan menampakkan kembali ujung kepala hingga dadanya.
Dilihatnya kedua wanita yang sudah ada di dalam kolam sebelum ia datang kini menghilang. Pertanda bahwa kedua wanita itu telah selesai membasuh dirinya dan kini kembali ke kamar mereka masing-masing. Kini tingga Ranum seorang diri termenung didalam kolam. Mengusapkan air berwarna hitam itu ke setiap sisi di wajahnya. Merasakan kesejukan saat air itu mengalir dari setiap sisi kulitnya.
Ketika Ranum melirik kesebelah kanan kolam, dilihatnya si singa berjalan mendekatinya. Menjilati lengan tangan Ranum dan perlahan mencelupkan tubuhnya ikut masuk ke dalam kolam hitam itu. Ranum kembali menyapa singa lebih ramah daripada sapaan pagi tadi. Kini mereka berdua berada didalam kolam. Menikmati setiap aliran air yang membasahi kedua tubuhnya.
Perlahan Ranum mendekatkan wajahnya dihadapan si singa. Menikmati setiap udara yang berhembus melewati celah antara wajahnya dan singa. Memejamkan mata secara perlahan dan memiringkan wajahnya. Ranum menikmati setiap gerak bibirnya terbuka. Begitupun dengan singa yang perlahan memejamkan matanya. Membuka kecil mulutnya yang penuh dengan bulu kumis dan taring yang tajam. Kini masing-masing bibir mereka menempel satu sama lain. Menikmati hangatnya sentuhan antara bibir Ranum dan moncong singa. Tidak ada lagi angin pagi yang berembus di antara kedua wajah mereka karena kulit mereka telah menyatu sama lain. Ranum menikmati setiap kehangatan dari moncong singa itu, melumatnya sebagaimana manusia berciuman pada umumnya.
Singa itupun menikmati setiap kulit bibir yang ditempelkan pada moncongnya. Lumatan bibir Ranum terhadapannya membuatnya nyaman. Melupakan bahwa dirinya adalah hewan buas yang memiliki taring tajam. Ia bisa melumat kembali bibir bahkan seluruh tubuh Ranum hingga tidak tersisa satu daging pun. Tapi singa malah menikmati apa yang diberikan Ranum kepadanya. Perlahan, tangan Ranum mendekap kepala singa sehingga ia bisa melumat moncongnya lebih dalam.
Begitupun singa yang mendekap pinggul Ranum sehingga bisa lebih dekat dengan perutnya. Singa dan Ranum kini terlihat bagaikan sepasang kekasih yang sedang melampiaskan gairahnya di dalam sebuah kolam berdua. Mereka terlihat seperti satu cinta yang sedang melampiaskan nafsunya pada pagi hari.
Desahan Ranum yang membuat suasana semakin panas. Singa mendekap lebih erat dimana tangannya kini sudah berada di punggun Ranum. Ia mengepalkannya karena tidak mau cakarnya melukai Ranum. Begitupun dengan taringnya yang disembunyikan agar lidah Ranum yang sedang bermain di dalamnya merasa nyaman.

___
Malam itu ketika bulan menunjukkan setengah sisi keemasannya, menerangi sebuah daratan pepohonan kering dengan pasir sebagai alasnya. Ranum berdiri dengan gagahnya pada barisan depan sebuah pasukan dengan senjata tajam yang kebanyakan terbuat dari batang-batang pohon dan batu besar. Suara riuh kelompoknya menandakan semangat yang membara meneriakkan sebuah lantunan sorak sorai menandakan siap untuk bertempur.
Dibalut dengan satin merah yang megah membuat Ranum dipandang sebagai seorang pimpinan yang bijak. Tanpa mahkota, tetapi pundaknya mampu membuat orang terenyah bahwa ia adalah ratu dari kelompoknya.
Terdengar suara ricuh dari seberang sana yang lebih berat dari suara kelompoknya. Bergemuruh meneriakkan semangat dari kelompoknya yang terdengar sangat sangar. Kelompok keamanan desa yang berniat mengusir Ranum dan kawanannya dari daerah itu. Diduga Ranum dan kawanannya telah membuat para lelaki berdatangan untuk melihat lekuk tubuh dari kawan-kawannya dan membuat risau para istri di desa akan kejadian itu. Ranum dan kawanannya akan dipindahkan ke sebuah rumah tinggal dimana mereka akan diurus layaknya narapidana yang terlibat kasus pelacuran.
Pengeras suara memancarkan teriakan dari kepala petugas. Membuat aba-aba untuk maju lebih cepat agar dapat melawan Ranum dan kawanannya lebih dekat. Tidak diduga olehnya, sebuah bara api muncul mendekati salah satu sisi kiri dari daerah itu. Sebuah bola api yang ditembakkan oleh petugas untuk membakar sebagian daerah. Ranum dan kawan-kawannya semakin mempersiapkan diri untuk maju dan berlari melawan petugas brengsek itu.

Pasukan semakin dekat jaraknya hingga Ranum kini bertatapan dengan salah satu kepala petugas. Ditatapnya mata petugas itu dengan tatapan tajam miliknya. Sebuah mitos mengatakan bahwa kekuatan Ranum untuk menaklukan pria sangat sakti. Ia mampu menghinotis ribuan pria hanya dengan sekali tatap. Sudah banyak korban jiwa berjatuhan akibat tatapan mata Ranum untuk semua pengunjung laki-laki yang tidak diundang datang ke daerahnya.
Tapi untuk kali ini, Ranum merasa aneh. Mata lelaki yang bertatapan dengannya tidak merespons apapun seperti Ranum biasa menatap lelaki lainnya. Ia merasa bingung dan terpaku melihat lelaki itu. Ketika si lelaki membuka penutup wajahnya, Ranum terperanjak kaget mengenali wajah itu.
Seorang lelaki yang dulu pernah membuatnya tenggelam dalam kisah yang manis dengan janji yang membelai hati Ranum sehingga bisa percaya akan arti cinta sejati. Ranum yang terhanyut akan ciuman pertama dengan lelaki itu kini harus mampu memusnahkannya dengan tatapan kedua matanya. Namun, lelaki itu tahu kelemahan Ranum yang mana ia tidak akan mampu membuat lelaki itu terpedaya dengan ketajaman matanya. Bahwa Ranum ternyata tidak bisa bersentuhan dengan baja. Sedangkan sekarang, tangan dari lelaki itu dibalut dengan baja yang kuat sehingga ia mampu menggenggam punggung Ranum dan membuat kekuatannya perlahan hilang.
Sebagian besar petugas kini telah gugur dengan perlawanan dari wanita-wanita kelompok Ranum. Para wanita membuat petugas lemas dengan lekuk tubuh yang dipamerkannya. Petugas keracunan oleh liur yang diberikan oleh sekelompok wanita dengan cara mencumbunya hingga tidak sadarkan diri.
Kini tingga Ranum dan lelaki itu. Dengan tenang, ia mengangkat kedua tangannya dan menggenggam udara lalu dipukulkan tepat didepan wajah lelaki yang sedang berhadapan dengannya. Ternyata ia memiliki kekuatan rahasia pemberian leluhur neneknya. Ranum mengutuk lelaki itu menjadi seekor kucing yang lemah tidak berdaya. Namun, karena tubuh Ranum yang semakin melemah dan baja dari tangan lelaki itu tidak terkalahkan, akhirnya mantra Ranum berbelok. Perlahan-lahan lelaki yang disihirnya tadi berubah menjadi seekor singa jantan yang gagah dengan bulu-bulu keemasan disekujur tubuhnya. Lelaki itu kini meringkih akan sakitnya tubuh ketika perlahan berubah dan menumbuhkan bulu-bulu baru secara mendadak.
Penyesalan menghampiri Ranum dan membuatnya terbelalak mendengar sebuah ucapan yang sama sekali tidak ia duga-duga. Suara rintihan dari sang singa yang membuatnya bergidik dan mematung menatap kedua matanya dalam-dalam.
"Saya disini untuk mengantar rindu dan menyampaikan kepada kamu untuk mengubahnya menjadi sebuah maaf."

___

Setelah semua tubuh singa dijelajahi oleh Ranum, ia berbisik kepadanya dengan nada halus. Menyampaikan ribuan sayang tepat didepan salah satu telinga si singa. Membuat singa itu menitihkan air mata tanda cinta dan mengecup kening Ranum saat bersamaan.
Mereka berdua beranjak dari kolam hitam itu. Ranum kembali mengenakan kain satinnya dan berjalan menuju tempat ia tidur sebelumnya. Sebelum singa meninggalkannya, Ranum sempat berkata kepada singa.
"Katakan pada ribuan singa di dunia, bahwa cinta dapat mengaum keras kala keduanya bersenggama."

Jakarta, 25 Desember 2016

Lawson Binus

Share:

Minggu, 26 Maret 2017

Penggunaan Bahasa Asing yang Lebih Dominan



Saat ini,masyarakat sering kali berbicara dengan lancar namun lupa bahwa yang mereka katakan tidak sepenuhnya menggunakan satu bahasa terutama bahasa Indonesia. Bahasa Inggris sering kali menjadi alternatif lain untuk mengungkapkan sesuatu yang sulit mereka katakan dalam bahasa Indonesia. Banyak orang mengganti satu kata atau lebih dalam satu kalimat yang mereka ucapkan untuk berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.
Ambil saja contoh dari suatu percakapan yang paling umum kita dengar. Penggunaan kata ‘which’ untuk menggantikan kata hubung dalam bahasa Indonesia.
“Soalnya asep rokok kan bahaya which is kalo masuk paru-paru, kita akan….”
            Belum lagi beberapa kata ganti benda yang sering kali kita dengar/baca dalam suatu percakapan. Para pekerja kantoran merupakan tokoh yang sering kita dengar sering mengganti kata-kata itu kedalam bahasa asing. Mereka mengganti kata kantor menjadi office dimana makna kantor mereka anggap sama seperti kantor kelurahan, kantor kecamatan, dan lainnya. Sementara makna office mereka anggap merujuk kepada sebuah menara yang setiap lantainya terdapat perusahaan tempat para karyawan itu bekerja. Kata rapat menjadi meeting. Dimana makna rapat mereka anggap sama dengan diskusi sesama pengurus Karang Taruna. Sementara meeting maknanya merupakan rapat sesungguhnya di kantor.
            Bagaimana dengan kalangan remaja yang kini menjadi tokoh yang sering menggunakan media? Sebagian besar dari mereka juga sering mengganti kata bahkan satu kalimat sekaligus dalam percakapan sehari-hari.
            “Hape gue ke-lock” satu contoh kalimat yang terdapat bahasa asing di dalamnya.
            “Gue kan jadi feel guilty banget” satu contoh kalimat yang terdapat dua bahasa asing sekaligus.
            Sekarang, mari kita lihat satu kalimat yang sering diucapkan remaja untuk berkomunikasi yang seutuhnya merupakan bahasa asing.
            I love you; Oh my god!; Really?
            Sangat banyak contoh lain penggunaan bahasa asing di masyarakat. Dari kasus ini, kita seharusnya sadar bahwa bahasa Indonesia kini tidak sepenuhnya bahasa Indonesia.
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.